Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025
Gambar
  Teruntuk kamu, smoga kamu berkenan untuk baca tulisan ini ya aa ​ Tapi sebelumnya maaf ya klo lancang nulis ini, ini laptop kamu kan seng? Soalnya aku juga gtau ini laptop siapa sebenernya, banyak kali macam-macam jenis nama dilaptop ini yang bikin aku jadi bingunggg. Tapi karna nama ayus paling banyak, yasuda aku percaya diri untuk menulis ini hehe.  Ini tulisan buat kamu ya, tapi klo ini tulisan ga smpe dikamu, minta tolong ya siapapun itu nanti yang sekilas baca tulisan ini, tolong sampein ke ayusss hihi, mksiiii. Tapi klo tulisan ini bisa langsung sampai ke kamu, alhamdulillah dehhh. ​ Mungkin pas kamu baca ini kita lagi LDR, atau mungkin bisa juga tulisan ini ga pernah kamu baca.  Tapi aku harap kamu bisa baca tulisan ini dan smoga kamu bisa mahaminya ya.  Ini cm sekedar tulisan ungkapan makasi dari aku buat kamu, karna aku ga berani buat ngomong langsung.  Ya ng aku tulis   dihari rabu,  dijam 10.10 WIB, dibulan desember bertepatan dengan hari ...

Sepucuk suran untuk ibu

Gambar
  Sepucuk surat kuketik dengan pelan-pelan, setenang cara seorang ibu merawatku sejak kecil.  Tak ada tergesa di tiap hurufnya, sebab aku belajar bahwa sesuatu yang lahir dari kasih tak pernah terburu-buru.  Setiap kata kupilih dengan hati-hati, seolah jika terlalu cepat, ia bisa melukai makna. Jemari ini menyentuh layar dengan sabar, seperti tangan seorang ibu yang dulu membetulkan kerah baju sebelum aku pergi, atau mengusap kepala tanpa banyak bicara ketika dunia terasa berat.  Dari dialah aku belajar merawat bukan dengan suara keras, tapi dengan kehadiran yang setia. Surat ini pun begitu. Ia tak ingin memaksa untuk dipahami, hanya ingin dibaca perlahan. Jika kelak sampai padamu, biarlah ia menjadi hangat, bukan karena indahnya susunan kalimat, melainkan karena ketulusan yang kutitipkan di setiap jeda.  Seperti kasih seorang ibu: sederhana, diam-diam, namun selalu sampai.

Perihal bungaku yang layu

Gambar
  Pesan ini sengaja kutulis bukan untuk pemerintah—jadi tak perlu nomor surat, cap basah, atau disposisi berlapis. Ini surat pribadi, ditujukan langsung kepada satu nama, satu rasa, dan satu bunga yang tumbuh diam-diam di kebunku. Aku pernah mencintai beberapa bunga sebelumnya. Mereka tumbuh ketika tanahku masih percaya pada musim, ketika aku pun percaya bahwa segala yang indah akan bertahan. Aku merawat mereka dengan bangga, memamerkan warnanya pada langit, hingga satu per satu gugur tanpa permisi, tanpa janji untuk kembali. Lambat laun kebunku sepi. Tanahnya kering, dedaunannya menumpuk, dan aku membiarkannya begitu saja, yakin tak akan ada lagi yang ingin tumbuh di sana. Aku berhenti berharap. Hingga suatu hari, di antara tanah yang retak dan sisa batang yang mati, aku melihatmu. Sebuah bunga kecil, tumbuh tanpa suara, seolah tak peduli bahwa kebunku telah kehilangan pesonanya.  Kau hadir bukan di musim terbaikku, melainkan di saat aku paling berantakan. Dan entah mengapa, ...
Gambar
Pada Kamu, yang Tak Kusesali untuk Kucintai Kepadamu yang selalu memikat hati, aku masih ingat betul bagaimana empat bulan lalu kita pertama kali berjumpa. Semuanya terasa biasa pada awalnya, tapi perlahan hadirmu mulai tinggal di kepalaku, lalu meresap ke dalam hari-hariku.   Tanpa kusadari, setiap obrolan, setiap tawa, bahkan setiap diam yang kita bagi, membuat kita semakin dekat hingga akhirnya menjadi satu kesatuan yang terasa sangat alami. Ada ketenangan aneh yang selalu datang ketika aku bersamamu. Seolah dunia berjalan sedikit lebih pelan, memberi ruang bagi kita untuk saling mengenal tanpa tergesa. Cara kamu memperhatikan hal-hal kecil, cara kamu mendengarkan, dan cara kamu membuatku merasa dihargai—semuanya membuatku betah berada di sampingmu. Empat bulan bukan waktu yang panjang, tapi cukup untuk membuatku mengerti bahwa kehadiranmu membawa warna baru dalam hidupku. Kamu membuat hari-hari biasa terasa lebih hangat dan bermakna. Jika perjalanan ini masih panjang, aku ingin...