Yogyakarta, dalam bahasa yang belum kukenal Yogyakarta memang menyimpan keindahannya sendiri. Indah seperti pantai Lowita yang kita kenal. Namun, dengan rona yang berbeda. Bukan laut yang menyapa di pagi hari, melainkan aroma gudeg yang menggoda di sudut-sudut gang. Bukan desir angin pantai yang membelai rambutku, tapi alunan gamelan yang lirih terdengar dari kejauhan, mengalun pelan seperti rindu yang tak selesai. Entah bagaimana, tanpa kusadari, kota ini mulai menempati ruang yang seharusnya hanya dihuni oleh keindahan dan cinta pada kota pinrang . Jogja merayap perlahan, seperti bayangan lembut yang menyentuh senja. Ia tak meminta tempat, tapi berhasil menciptakan ruang. Ada bagian dari hatiku yang mulai luluh pada langkah-langkah kecil di Malioboro, pada senyum hangat penjual angkringan, pada malam-malam yang hening tapi terasa penuh. Aku tak ingin melawan aliran ini. Mungkin memang ada kota-kota tertentu yang ditakdirkan untuk kita jatuh cinta tanpa rencana. Yogyakarta adal...