Perihal bungaku yang layu

 



Pesan ini sengaja kutulis bukan untuk pemerintah—jadi tak perlu nomor surat, cap basah, atau disposisi berlapis. Ini surat pribadi, ditujukan langsung kepada satu nama, satu rasa, dan satu bunga yang tumbuh diam-diam di kebunku.


Aku pernah mencintai beberapa bunga sebelumnya.

Mereka tumbuh ketika tanahku masih percaya pada musim, ketika aku pun percaya bahwa segala yang indah akan bertahan. Aku merawat mereka dengan bangga, memamerkan warnanya pada langit, hingga satu per satu gugur tanpa permisi, tanpa janji untuk kembali. Lambat laun kebunku sepi. Tanahnya kering, dedaunannya menumpuk, dan aku membiarkannya begitu saja, yakin tak akan ada lagi yang ingin tumbuh di sana.


Aku berhenti berharap.


Hingga suatu hari, di antara tanah yang retak dan sisa batang yang mati, aku melihatmu. Sebuah bunga kecil, tumbuh tanpa suara, seolah tak peduli bahwa kebunku telah kehilangan pesonanya. 

Kau hadir bukan di musim terbaikku, melainkan di saat aku paling berantakan. Dan entah mengapa, sejak itu, kebun ini terasa hidup kembali bukan karena warnanya, tetapi karena harapan yang perlahan berani bernapas.


Aku mulai membersihkan tanah sedikit demi sedikit.

Bukan agar kebunku tampak indah, melainkan agar kau aman tumbuh. Aku belajar berjalan pelan, menjaga jarak agar tanganku tak ceroboh melukaimu.

Meski kadang daun dan kelopakmu gugur, membuat kebunku kembali terlihat kacau, aku tidak mengeluh. Aku tahu, itu bagian dari caramu bertahan, bagian dari cerita tumbuh yang tak selalu rapi.


Musim terus berganti. Ada hari-hari ketika hujan terlalu deras, ada malam ketika angin berusaha merobohkanmu. Pada saat-saat seperti itu, aku memilih tinggal. Menjadi penjaga yang tak selalu sempurna, tetapi setia. 




Aku tidak berjanji kebunku akan selalu bersih atau hangat, namun aku berjanji untuk tidak pergi.


Dan jika kelak kebun ini mencapai akhir kisahnya ketika tanah tak lagi kuat menopang, dan aku tak lagi mampu berdiri biarlah tercatat satu hal sederhana: bahwa pernah ada sebuah bunga yang tumbuh dari kebun yang hampir mati, dan pernah ada seseorang yang mencintainya bukan karena keindahan, melainkan karena keberaniannya untuk hidup.

 


Bungaku Rr Audy Ananda Wibisana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bapak saya juga bayar pajak om