Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Mengikhlaskan tanpa kata

Gambar
  Mengikhlaskan tanpa kata Aku tahu, aku telah kehilanganmu pada setiap detik yang kulewati dalam penantian sunyi, menanti balasan yang tak pernah datang dan barangkali, tak pernah akan. Aku sadar sepenuhnya, kau berhak bahagia, dengan caramu sendiri, bersama dia yang kau pilih, dalam semesta yang tak lagi menyisakan ruang untukku. Namun, yang tak kumengerti dengan alasan apa kau tak rela melihatku memanggul luka yang kau tinggalkan dengan cantikmu? Bukan aku tak ingin merelakan, hanya saja, ada rindu yang belum sempat kutitipkan, ada kata yang tak sempat kupeluk dalam diam. Maka izinkan aku, walau hanya sekali, mencintaimu dalam diam tanpa harus merasa bahwa aku tak seharusnya.

Rintik yang tak sampai

Gambar
Rintik yang Tak Sampai Hujan menyulam sunyi di jendela malam Seperti rinduku tak bernama, tak bersuara Kau hadir di tiap genangan pikir Namun tanganku lumpuh oleh gengsi luka Aku menatap langit yang retak oleh gerimis Mencari isyarat dalam denyut angin Tapi langkahku selalu gugur di ambang pesan Karena cinta, kadang harus diam demi harga Biarlah kau tak tahu betapa aku menanti Di antara detik yang kuyup oleh harap Sebab tak semua rindu layak diberi kabar Ada cinta yang hanya mampu mencintai, dari jauh

Bapak saya juga bayar pajak om

Gambar
Perjalanan Si Rudi Rudi sedang duduk di bangku warung kopi kecil, menghadap layar ponselnya. Ia baru saja membuka grup chat, tempat teman-temannya sering berdiskusi tentang kuliah dan kehidupan mereka. Beberapa pesan terkirim, dan hati Rudi terasa sedikit terguncang membaca kata-kata itu. “Di sana cuma modal berangkat kuliah. Kalau mood nggak ada, bolos terus di kelas tidur aja. Sementara kita berangkat kuliah buat cari biaya,” bunyi salah satu pesan. Rudi menunduk. Kata-kata itu seperti disambar petir di siang bolong. Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu betapa kerasnya perjuangannya. Di balik penampilannya yang sering tidur di kelas, Rudi berjuang mati-matian setiap hari. Sementara mereka bisa dengan mudah bangun pagi, bersiap, dan pergi ke kampus tanpa memikirkan banyak hal. Rudi harus bekerja keras, di warung kopi malam hari, hanya untuk menambah sedikit uang agar bisa melanjutkan kuliah. Rudi menarik napas dalam-dalam. Sering kali ia merasa, semua ini tak pernah cukup. Tak pernah ...