Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2025

Sebuah keresahan dari rakyat terhadap pemerintah

Rakyat kini semakin resah setelah mendengar kabar mengenai penghematan anggaran pemerintah yang ternyata berdampak pada sektor-sektor penting, termasuk pendidikan. Pemerintah yang berjanji untuk mengefisienkan anggaran demi memperbaiki perekonomian negara justru mulai memangkas anggaran yang seharusnya digunakan untuk kepentingan publik, salah satunya pendidikan. Di saat yang sama, muncul kabar mengejutkan bahwa Pertamina, perusahaan milik negara yang seharusnya menjadi kebanggaan nasional, merugikan negara hingga 968 triliun rupiah melalui praktik korupsi berupa pertamax oplosan. Bagi rakyat, ini adalah pukulan telak. Sektor pendidikan yang seharusnya menjadi prioritas utama, kini terancam tergerus akibat kebijakan penghematan yang salah sasaran. Padahal, sektor pendidikan adalah pondasi masa depan bangsa, yang seharusnya mendapat alokasi anggaran yang memadai untuk mencerdaskan generasi penerus. Namun, justru pada saat yang bersamaan, berita tentang kerugian negara yang disebabkan ol...

Kenyang tidak goblok iyya

  Program makanan bergizi yang digagas oleh Prabowo memang terdengar mulia, tetapi perlu dilihat lebih kritis dalam konteks keberlanjutannya. Kebijakan yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia ini seharusnya menjadi langkah positif, namun kenyataannya menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Ketika muncul sebuah berita anggaran pendidikan dipotong, entah itu untuk mendukung program ini atau untuk melanjutkan pembangunan IKN yang mangkrak saya rasa dampaknya jauh lebih besar dan merugikan. Banyak anak-anak yang seharusnya mendapatkan akses pendidikan yang layak, malah terpaksa kehilangan kesempatan tersebut karena anggaran yang lebih difokuskan pada makanan bergizi yang tidak merata. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, lebih dari 4 juta anak usia sekolah dasar masih menghadapi kesulitan dalam mengakses pendidikan, terutama di daerah-daerah terpencil dan miskin. Hal ini diperburuk dengan pemotongan anggaran pendidikan yang diambil untuk mendanai program ma...

September

    S eptembe r   “Di setiap langkah kecil, kita belajar          bahwa cinta adalah perjalanan, bukan t uj uan  yang harus dicapai”         Beberapa minggu setelah percakapan itu, aku sendiri merasa ada perubahan yang mulai terasa di udara. Kami tidak lagi hanya berbicara tentang apa yang harus kami capai, tetapi lebih banyak tentang bagaimana kami ingin menjalani hari-hari ini.  Hubungan kami terasa lebih hidup, meskipun kadang ada keraguan yang masih membayangi . Kami mulai merencanakan waktu untuk bersama sebuah janji bahwa meskipun dunia kami sibuk, kami akan tetap menemukan momen untuk saling hadir. Suatu sore, setelah kuliah selesai, aku menunggumu di ruang kelas. Kamu muncul dengan wajah lelah, matamu biasanya cerah kini sedikit redup karena tugas yang terus menumpuk. Namun, saat kamu melihat ku , senyummu juga muncul begitu saja, seakan cahaya yang muncul di tengah awan gelap. Aku merasa sedikit lega. “apakah...

Agustus

         Agustus      Bukan hanya laut yang ad a  pasang surutnya, hubungan pun mempunyai pasang surut.     Angin laut menghembus pelan di tanralili, udara yang segar setelah hujan badai malam itu menyapa angin, dan burung-burung yang kembali terbang, seolah menyambut pertemuan kami yang aneh ini. Aku, yang seolah terjebak dalam pertemuan tak terduga, mencoba mengatur langkah dengan hati yang bingung dan penuh tanya. Aku masih ingat, setelah pertemuan kita yang keempat, aku mulai merasa ada sesuatu yang beubah dalam diriku. Biasanya aku hanya melihat dunia ini lewat egoku, menghindari hal-hal yang bisa mengganggu kenyamanan hidupku. Tapi kamu, dengan cara yang tak terduga, telah merusak kenyamananku itu. Aku tidak tahu apakah yang datang begitu saja tanpa disadari. Tapi yang jelas, perasaan itu semakin kuat. “ahhh, siall” batinku. Sambil menatap ke arahmu yang duduk di hadapanku. Kamu yang baru saja mengatakan kalau kamu suka padaku...