Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025
Gambar
  Sebaris Kata Sebelum Gelap Ini bukan surat. Hanya pesan singkat dari layar ponsel yang hampir mati seperti tenagaku menahan rindu. Jika sempat terbaca, semoga kamu tahu bahwa aku masih mencintaimu. Semoga kamu selalu menemukan cinta, meski bukan dariku yang kini tak bisa berada di sisimu. Aku tahu, jarak ini sunyi dan kadang terasa terlalu luas untuk dijangkau dengan kata atau rindu. Tapi aku berharap, di sela-sela sepi yang kamu lewati, kamu tetap bisa merasakan hangatnya cinta meski samar, meski hanya seperti bayanganku yang mungkin mulai pudar dalam ingatanmu. Semoga kamu menemukannya dalam matahari yang terbit perlahan, dalam malam yang lengang dengan bulan menggantung pasrah, dalam angin pagi yang menggigit pelan, atau dalam segelas minuman yang biasa kamu nikmati sendirian. Karena aku tidak bisa berada di sana untuk mencintaimu secara langsung, aku hanya bisa menitipkannya pada hal-hal kecil di sekitarmu. Aku juga berharap cinta tumbuh dalam dirimu cinta yang lembut, yang b...
Gambar
  Di Persimpangan Syurga dan Neraka Tulisan ini adalah ziarah jiwa menggugah renungan tentang hidup, mati, dan pencarian makna di antara syurga dan neraka. Sebuah perjalanan sunyi menuju damai yang tak bergantung pada tujuan akhir. Pada ujung pengharapan, di dalam ketenangan yang rapuh, manusia sering kali dihadapkan pada perbincangan tentang hidup dan mati. Katanya, kematian adalah kedamaian, sebuah akhir yang membawa ketenangan dari segala kerumitan dunia.  Namun, doa-doa tak pernah berhenti dipanjatkan, sebagai permohonan untuk hidup yang lebih baik, lebih panjang, atau sekadar berharap adanya keajaiban dalam perjalanan hidup ini. Dalam perbincangan ini, kita sering melupakan bahwa di antara syurga dan neraka, ada ruang yang jauh lebih luas untuk dipahami.  Tuhan, yang hadir di mana-mana, sering kali dicari dalam berbagai bentuk. Ada yang mencarinya dalam doa, ada pula yang mencarinya dalam keheningan, bahkan dalam kebingungannya.  Tetapi kenyataannya, manusia jus...
Gambar
Rahasia di Balik Ciptaan Semesta Terkadang, kata tak mampu merangkum rasa. Namun izinkan aku mencoba, lewat untaian ini, menyentuh hatimu seperti hadirmu menyentuh jiwaku. Semesta menciptakanmu seolah dengan tangan yang paling halus dan hati yang paling tulus. Setiap komponen dalam dirimu tampak dirancang dengan penuh perhitungan, namun tetap mengalir alami seperti puisi yang lahir dari keheningan.  Senyummu manis bukan karena bentuknya semata, tetapi karena kehangatan yang tersimpan di baliknya. Ia tidak sekadar menarik bibir, melainkan membuka pintu ketenangan, seakan menghapus keraguan hanya dalam satu lengkung sederhana. Matamu, teduh seperti danau yang tak terusik angin. Tatapanmu membawa kedamaian, mengendapkan riuh dunia dalam sekejap. Di dalamnya, ada kejujuran yang jernih, tempat di mana aku merasa dilihat, bukan sekadar dipandang. Sementara itu, suaramu adalah pelukan tak kasat mata. Nada dan intonasinya seperti gema dari rumah yang lama kutinggalkan akrab, nyaman, dan me...
Gambar
Bapak, Waktu Diam-Diam Mengambilmu Pelan-Pelan Tulisan ini kutulis sebagai pengingat bahwa cinta seorang bapak sering hadir dalam diam, dan waktu mencurinya perlahan. Semoga kita sempat memeluk, sebelum segalanya tinggal kenangan yang tak bisa dijawab. Aku tak tahu kapan tepatnya waktu mulai mencuri bapak dariku. Bukan seperti kematian yang datang tegas dan tiba-tiba, tapi perlahan, diam-diam, nyaris tak terasa. Seperti tetes air yang lama-lama melubangi batu. Dulu, bapak adalah sosok paling kuat dalam hidupku. Langkahnya pasti, suaranya berat dan jarang terdengar. Ia tak pandai berkata “sayang”, tapi tiap pagi ia bangun lebih dulu, memastikan rumah tak kekurangan apa pun. Ia tahu kapan harus mengganti atap sebelum bocor, kapan anaknya butuh sepatu baru, kapan istrinya hanya butuh didengarkan. Semuanya ia lakukan tanpa banyak bicara. Namun kini pundaknya mulai merosot. Langkahnya lambat. Tatapannya kadang kosong, seolah lupa sedang berada di mana. Ia masih bapakku, tapi ada yang perlah...
Gambar
  Teras asrama, air mineral, dan hal-hal yang mungkin jutaan tahun lalu Menjelang kepergianmu hari itu, di teras asrama dan dibalik jendela hitam, aku melihatmu. Kurasa kau tahu, bahwasanya lahan teras asrama itu, jutaan tahun lalu mungkin padang rumput tempat mamalia purba berlari. Dan kemarin aku menyaksikanmu disana, memandangi setiap sudut teras asrama. Saat itu, ku abadikan indahmu pada detik hampa sebelum jendela tertutup menelanmu dalam konsumerisme. Dan andai aku salah satu dari air mineral di tempat sampah itu, yang molekul nya jutaan tahun lalu mungkin mengalir di sungai purba, atau tetes hujan yang jatuh di kepala dinosaurus, yang akhirnya dikemas menjadi komoditas. Jika aku adalah air mineral itu, ingin kutuntaskan takdir tertinggiku di tanganmu. Semoga selalu disertai kebahagiaan nonaku💐🌻
Gambar
  Sekedar info.  Dari jauh kutulis surat ini, sambil menahan tawa getir membaca kabar pajak yang katanya naik lebih cepat dari doa malamku. Entah dompet kita yang menipis, atau rindu yang makin menebal keduanya sama-sama terasa.  Sepucuk surat Kutulis dengan jemari yang gemetar, bukan karena dingin, tapi karena ada rasa yang terlalu lama kupendam. Di luar, langit tampak murung, menahan hujan yang enggan jatuh, seolah ikut menjaga rahasia yang selama ini kubawa.  Dan di sela sunyi itu, namamu hadir lagi, mengetuk pelan di pikiranku, membuatku kehilangan kata kecuali satu: rindu. Seandainya perasaan ini bisa kusimpan rapat, mungkin aku tak perlu menuliskannya di layar. Tapi aku tahu, jika tidak kutuliskan, aku bisa hancur oleh beratnya kerinduan yang tak pernah tahu cara kembali. Maka biarlah huruf-huruf ini mengalir lewat ponselku, menjadi pengakuan kecil yang barangkali takkan pernah kubisikkan langsung. Surat ini bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan potongan j...
Gambar
  Menunggu langkahmu Sebenarnya aku ingin bertanya padamu, bukan dengan suara, melainkan lewat bait-bait yang kutulis. Sebab ada hal-hal yang terlalu rapuh bila diucapkan, namun begitu jujur saat dituangkan dalam kata. Dan lewat tulisan ini, izinkan aku menyampaikan resah yang tak sanggup kusampaikan tatap mata. Jika memang kau orangnya, mengapa langkahmu selalu ragu mendekat? Aku berdiri di sini, bukan untuk menuntut, hanya berharap hatimu berani mengetuk pintuku. Aku ingin percaya kau adalah rumah, tempat segala resahku berhenti. Namun kadang aku takut jangan-jangan aku hanya persinggahan, sementara hatiku telah menjadikanmu tujuan. Cinta, bagiku bukan hanya tatapan yang indah, tapi keberanian untuk mendekap meski langkah goyah.  Jika benar aku yang kau cari, runtuhkanlah jarak ini, datanglah dengan sederhana, tanpa janji muluk, tanpa kata yang berkilau. Tapi bila hatimu tak pernah berniat singgah, maka biarlah aku merawat luka ini dengan tenang. Sebab yang kucari bukan peng...