Yogyakarta, dalam bahasa yang belum kukenal
Yogyakarta memang menyimpan keindahannya sendiri. Indah seperti pantai Lowita yang kita kenal. Namun, dengan rona yang berbeda. Bukan laut yang menyapa di pagi hari, melainkan aroma gudeg yang menggoda di sudut-sudut gang. Bukan desir angin pantai yang membelai rambutku, tapi alunan gamelan yang lirih terdengar dari kejauhan, mengalun pelan seperti rindu yang tak selesai.
Entah bagaimana, tanpa kusadari, kota ini mulai menempati ruang yang seharusnya hanya dihuni oleh keindahan dan cinta pada kota pinrang. Jogja merayap perlahan, seperti bayangan lembut yang menyentuh senja. Ia tak meminta tempat, tapi berhasil menciptakan ruang. Ada bagian dari hatiku yang mulai luluh pada langkah-langkah kecil di Malioboro, pada senyum hangat penjual angkringan, pada malam-malam yang hening tapi terasa penuh.
Aku tak ingin melawan aliran ini. Mungkin memang ada kota-kota tertentu yang ditakdirkan untuk kita jatuh cinta tanpa rencana. Yogyakarta adalah sesuatu yang lain. Ia bukan sekadar tujuan, tapi perjalanan itu sendiri. Sebuah petualangan baru yang harus kulewati, meski tak ada peta, meski arah belum pasti. Mungkin ini cara semesta mengujiku bukan dengan badai, tapi dengan ketenangan yang membuatku bertanya-tanya: benarkah aku siap melepaskan, meski hanya sementara?
Jogja memberiku ruang untuk diam, untuk merasa, dan untuk mengenali diriku sendiri dalam cermin-cermin yang tak biasa. Setiap sudutnya menyimpan cerita yang belum selesai. Dan aku, masih menjadi bagian dari kisah yang sedang ditulis oleh waktu.
Sebelum aku kembali ke kota pinrang, ke pelukan pasir dan ombak yang kupanggil rumah, doakan aku agar tidak tersesat. Karena kadang, tersesat bukan berarti hilang, tapi sedang menemukan sesuatu yang belum pernah kita cari.

Komentar
Posting Komentar