Kukira lapar ternyata rindu



Malam itu aku jalan sendiri di Jogja.


Udara dingin. Tapi bukan dingin yang galak, bukan juga yang bikin menggigil sampai gigi protes. Ini dingin yang pelan, masuk pelan-pelan, kayak bilang, “Santai mko lewat saja ja ini” Jalanan sepi. Lampu jalan menyala seadanya, suara kendaraan jarang sekali kayak semua orang sepakat mau tidur lebih cepat malam itu.


Aku jalan tanpa arah. Kayak hati yang bingung mau rindu ke siapa. Terus aku liat ke langit.


Langitnya bersih sekali. Bintang-bintang bertabur, duduk manis kayak penonton nonton konser bulan. Dan memang… bulan malam itu luar biasa. Bulat, terang, sok glowing, macam dia yang paling cantik di antara semuanya. Cahayanya jatuh di jalan, memantul indah, tapi juga ada sedihnya.


Aku berdiri lama. Nggak tahu mau ngapain. Cuma liat. Diam. Hening.


Terus datang itu rasa. Rindu.


Tapi saya juga bingungrindu siapa? Tidak ada yang muncul di kepala. Tidak ada wajah. Tidak ada nama. Hanya dada yang tiba-tiba berat, kayak habis makan coto lima mangkok, tapi isinya bukan daging melainkan kenangan.


Mungkin saya rindu sama orang yang belum pernah saya temui. Atau sama versi diri saya yang dulu, yang masih bisa ketawa tanpa mikirin cicilan. Heh.


Jogja malam itu dia diam, tapi rasanya dia ngerti. Kayak teman baik, yang duduk di sampingmu, tidak banyak bicara, tapi hadirnya cukup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bapak saya juga bayar pajak om