Tentang Pohon, Mata, dan Kepergian
Terima kasih telah sudi membaca catatan sederhana ini. Ia lahir dari rasa, dari kehilangan yang perlahan diajarkan alam. Semoga setiap kata menjadi teman hangat, seperti musim yang berganti namun tetap memberi arti.
Pohon itu masih sama. Aku menatapnya dari jarak yang tak berubah, seakan-akan waktu berhenti. Tapi tanpa kusadari, daun-daunnya telah berganti. Ada yang gugur, ada yang tumbuh baru. Sama seperti tubuhku yang terus memperbarui dirinya sel-sel mati, sel-sel lahir semua berjalan tanpa pernah menunggu izinku. Seakan kehilangan adalah bagian yang harus diterima, mau atau tidak.
Matamu juga begitu. Aku masih membacanya dengan cara yang sama, masih menemukan puisi yang ditulis semesta diam-diam di sana. Namun kini aku sadar, seperti cahaya bintang yang terlihat indah meski mungkin padam jutaan tahun lalu, apa yang kurasakan bukan sesuatu yang bisa kugenggam selamanya. Keindahan, ternyata, tidak selalu ditakdirkan untuk dimiliki.
Kau pergi begitu saja, tanpa bertanya apakah aku masih ingin menatapmu lebih lama. Dan aku, yang dulu ingin menahanmu, akhirnya belajar membiarkanmu lewat. Ada perih, tapi juga ada tenang. Karena ternyata mencintai juga berarti menerima bahwa beberapa hal hanya singgah untuk mengajarkan arti kehadiran.
Kini aku berdiri di bawah pohon itu lagi. Angin menyentuh wajahku, membawa bisikan yang samar tapi hangat. Aku tersenyum kecil, sebab aku tahu: meski daun berganti, meski kau sudah pergi, ada jejak yang tetap tinggal. Bukan untuk menyiksa, tapi untuk dikenang seperti musim yang terus berputar, memberi arti tanpa harus dimiliki.

Komentar
Posting Komentar