Sepetak cinta dihati yang bernama kamu


Ketahuilah, setiap kata dalam tulisan ini kutulis denganmu sebagai pusatnya. Dari ladang, savana, hingga senja, segalanya kembali padamu. Inilah surat kecil tentang cinta yang selalu menemukan rumah di hatimu.


     Jika kau bertanya ada apa di ladang ayahku.

mungkin kau akan menemukan sepetak cinta yang sederhana, yang dulu lahir dari tatapan ayahku pada mata ibuku. Cinta itu bukan sekadar kata, melainkan tanah yang digarap dengan doa, peluh yang dijatuhkan demi keberlangsungan keluarga dan harapan yang tumbuh dari kesetiaan. Ladang itu bukan hanya ruang fisik, melainkan simbol bahwa cinta bisa menjelma dalam kerja keras dan pengorbanan.

      Jika kau bertanya ada apa di savana.

mungkin ada jejak cinta yang jauh lebih purba. Sejak ratusan ribu tahun lalu, spesies kita berlari dan berburu bukan sekadar untuk bertahan hidup, melainkan demi orang-orang yang dicintai. Cinta, dalam bentuk paling awalnya, adalah dorongan untuk menjaga, melindungi, dan memberi. Dari api unggun di gua-gua kuno hingga bisikan di telinga kekasih, cinta selalu menjadi alasan manusia bertahan.

    Jika kau bertanya ada apa di malam abad pertengahan.

mungkin jawabannya adalah perasaan yang terikat pada zaman. Ada ksatria yang patah hati, cinta yang tak direstui takhta, dan puisi yang ditulis dengan darah kerinduan. Di sana, cinta tampak tragis sekaligus abadi, seolah menegaskan bahwa hati manusia selalu mencari ruangnya sendiri meski diikat oleh aturan dan pedang.

    Namun, jika kau bertanya ada apa di balik hatiku.

jawabannya jauh lebih sederhana dan sekaligus lebih rumit. Tak ada ksatria, ladang, atau savana. Yang ada hanyalah ribuan senja yang selalu menuliskan namamu di langit jingga, dan embun pagi yang memantulkan wajahmu pada dedaunan. 

Cintaku padamu adalah sejarah yang merangkum semua kerja keras ayahku, insting purba manusia, dan keromantisan abad-abad silam. Semua bermuara pada satu hal namamu yang menjadi rumah bagi setiap detak jantungku.

Komentar

  1. Apakah sejatuh cinta itu dikau tuan? Sehingga menulis sebuah bait yang membuatku kali ini kembali kagum padamu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bapak saya juga bayar pajak om