Malam selalu punya cara menghadirkan sepi yang terlalu luas. Dalam kesunyian itu, aku menemukan dahaga yang bukan sekadar haus tubuh, melainkan haus karena rindu yang tak pernah selesai. Seteguk air putih hanya singgah sejenak, namun tidak mampu menenangkan kerongkongan yang digerogoti jarak. Tulisan ini lahir dari lirih yang kupeluk diam-diam, dari kerinduan yang tak berwujud, namun beratnya lebih dari segala beban. Semoga ia sampai padamu.


Seteguk Air Putih di Tengah Malam


Malam ini kembali sunyi, hanya detak jam yang terdengar, seakan waktu sengaja memperlambat langkahnya. Aku terbangun dengan tenggorokan kering, lalu meraih segelas air putih. Seteguk yang sederhana itu mengalir, tetapi entah mengapa justru terasa pahit. Sebab hausku bukan sekadar haus tubuh, melainkan haus karena rindu yang perlahan menggerogoti.

Setiap kali air itu melewati kerongkongan, aku sadar betapa kosongnya ruang dalam diriku. Air bisa menenangkan, tetapi ia tidak mampu meredakan jarak yang semakin menyesakkan. Rindu ini seperti gurun, luas dan sunyi, membuatku berjalan tanpa arah, mencari oase yang hanya ada dalam bayanganmu.

Aku ingin percaya bahwa suatu saat dahaga ini akan reda, bahwa malam tidak selamanya dingin dan sepi. Namun kenyataan seringkali berbeda rinduku justru semakin menumpuk, menjadi lapisan demi lapisan yang tidak bisa kularutkan, bahkan oleh seribu tegukan air putih.

Maka aku duduk dalam lirih, membiarkan malam menelan resahku. Segelas air kembali kuteguk, bukan untuk memadamkan haus, melainkan sebagai cara kecil untuk bertahan. Dan dalam hening itu, aku berbisik pelan aku merindukanmu, lebih dari yang bisa kutahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bapak saya juga bayar pajak om