Ikhlas di antara Luka
Tidak semua tulisan lahir dari tenang dan bahagia. Ada yang lahir dari pergulatan batin, dari ketidakterimaan yang menumpuk hari demi hari. Inilah catatan tentang luka yang terlalu dalam untuk diam, tetapi terlalu berat untuk diucapkan.
Semoga siapa pun yang membaca, menemukan dirinya di sini.
Akhir-akhir ini, banyak dari kita mungkin merasa bahwa hidup hanyalah tentang belajar ikhlas. Sebuah kata sederhana yang sering kita dengar, tetapi dalam praktiknya justru mengiris paling dalam. Di antara berjuta-juta kemarahan, rasa ketidakterimaan, dan ketidakmampuan menerima kenyataan, kita seperti dipaksa menelan sesuatu yang terlalu pahit untuk bisa diterima sepenuhnya.
Kita marah pada keadaan yang tak sesuai harapan, kecewa pada orang lain yang tak seperti yang kita bayangkan, bahkan sering kali marah pada diri sendiri yang terasa terlalu lemah untuk bertahan.
Inilah yang membuat banyak orang hidup dalam lingkaran yang sama menolak, menyangkal, lalu terpuruk.
Secara psikologis, kita tahu bahwa penolakan hanyalah mekanisme pertahanan diri. Namun, justru dari penolakan itulah lahir penderitaan baru.
Ikhlas pada akhirnya bukanlah tentang menghilangkan rasa sakit, melainkan tentang menerima bahwa rasa sakit itu memang ada.
Bahwa kita manusia, dan wajar jika rapuh. Mungkin itu sebabnya banyak orang merasa perjalanan ini begitu berat karena ikhlas sering kali dipahami sebagai menyerah, padahal ia adalah bentuk keberanian paling sunyi: keberanian untuk berdamai dengan luka yang tak kunjung sembuh.
Kita semua, dengan caranya masing-masing, sedang berproses. Tidak ada yang benar-benar mudah, tidak ada yang benar-benar cepat.
Ikhlas adalah perjalanan panjang, dan mungkin justru di situlah keindahannya sebuah kesadaran bahwa meski kita terus terluka, kita tetap memilih untuk melanjutkan hidup.

Kemana si nona yang kamu bangga-banggakan, kamu ceritakan kepada kami dengan semangat menggebu-gebu, yang selalu kamu sandingkan dengan kata indah. Apakah tuan telah berpisah atau memisahkan diri?
BalasHapusHahaha mungkin lagi menyendiri dipersimpangan jalan malioboro
Hapusaku peduli sungguh, tapi tanpa status
BalasHapusaku ga tau batasnya
aku ingin ada, tapi takut terlalu jauh
aku ingin menunjukkan, tapi takut disalah artikan
akhirnya yang ku maksud baik justru terasa abu"
kamu mengira mngkn ak ga peduli, padahal aku hanya terjebak dalam 'kebingungan' antara menjaga perasaan atau melangkah tanpa kepastian
Engkau terlalu takut akan hal-hal yang belum pasti terjadi. Ketahuilah, adakalanya kita perlu melawan rasa takut agar bisa keluar dari pendritaan🍂💐
Hapus