Sekedar info.
Dari jauh kutulis surat ini, sambil menahan tawa getir membaca kabar pajak yang katanya naik lebih cepat dari doa malamku. Entah dompet kita yang menipis, atau rindu yang makin menebal keduanya sama-sama terasa.
Sepucuk surat
Kutulis dengan jemari yang gemetar, bukan karena dingin, tapi karena ada rasa yang terlalu lama kupendam. Di luar, langit tampak murung, menahan hujan yang enggan jatuh, seolah ikut menjaga rahasia yang selama ini kubawa.
Dan di sela sunyi itu, namamu hadir lagi, mengetuk pelan di pikiranku, membuatku kehilangan kata kecuali satu: rindu.
Seandainya perasaan ini bisa kusimpan rapat, mungkin aku tak perlu menuliskannya di layar. Tapi aku tahu, jika tidak kutuliskan, aku bisa hancur oleh beratnya kerinduan yang tak pernah tahu cara kembali. Maka biarlah huruf-huruf ini mengalir lewat ponselku, menjadi pengakuan kecil yang barangkali takkan pernah kubisikkan langsung.
Surat ini bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan potongan jiwaku yang terselip di antara piksel cahaya. Sebuah pengakuan tanpa syarat, tanpa tuntutan. Sebuah cinta yang memilih berdiam, namun ingin tetap ada, meski hanya lewat layar yang dingin dan jarak yang tak terukur.
Dan meski mungkin kau tak pernah membalas atau bahkan membacanya, aku tetap menuliskannya sebab kadang cinta bukan soal sampai atau diterima, melainkan soal keberanian untuk hadir, meski hanya dalam sunyi.



kalau seandainya aku tak sanggup menyuarakan perasaan dengan bahasa manusia, biarkanlah do'aku yang menyusup perlahan ke langit paling tinggi, menggantung di antara gugusan harap yang belum bernama
BalasHapussebab di balik senyapku, ada pinta yang lirih " jangan dulu jatuh ke hati yang bukan aku ya"
Bukan tak sanggup nona, hanya saja kamu terlalu takut terhadap sesuatu yang belum terjadi. Apakah kamu takut salah orang lagi?
HapusSemoga rindu itu abadi tuanku🍂
BalasHapusAku ingin selalu merindukanmu, tapi aku lupa bahwa aku bukan siapa”
BalasHapusYang pnting manusia aja wkwkwk
Hapus