Bapak, Waktu Diam-Diam Mengambilmu Pelan-Pelan


Tulisan ini kutulis sebagai pengingat bahwa cinta seorang bapak sering hadir dalam diam, dan waktu mencurinya perlahan. Semoga kita sempat memeluk, sebelum segalanya tinggal kenangan yang tak bisa dijawab.

Aku tak tahu kapan tepatnya waktu mulai mencuri bapak dariku. Bukan seperti kematian yang datang tegas dan tiba-tiba, tapi perlahan, diam-diam, nyaris tak terasa. Seperti tetes air yang lama-lama melubangi batu.

Dulu, bapak adalah sosok paling kuat dalam hidupku. Langkahnya pasti, suaranya berat dan jarang terdengar. Ia tak pandai berkata “sayang”, tapi tiap pagi ia bangun lebih dulu, memastikan rumah tak kekurangan apa pun. Ia tahu kapan harus mengganti atap sebelum bocor, kapan anaknya butuh sepatu baru, kapan istrinya hanya butuh didengarkan. Semuanya ia lakukan tanpa banyak bicara.

Namun kini pundaknya mulai merosot. Langkahnya lambat. Tatapannya kadang kosong, seolah lupa sedang berada di mana. Ia masih bapakku, tapi ada yang perlahan memudar daya ingat, kekuatan, kejernihan. Seperti karang yang terus digerus ombak.

Dulu aku sering salah paham. Kukira ia keras dan dingin. Tapi sekarang aku sadar, ia mencintai dengan cara yang sederhana: lewat perbuatan, bukan ucapan. Dan justru kini, saat tubuhnya melemah dan ingatannya mulai kabur, aku merasa lebih dekat dengannya.

Aku tahu ia belum pergi. Tapi setiap hari, aku merasa kehadirannya tak lagi utuh. Dan aku takut, takut kehilangan segalanya, termasuk yang belum sempat aku syukuri.

Karena itu, aku kini mencoba lebih hadir. Duduk di sisinya meski kami diam. Menggenggam tangannya, mencium keningnya hal-hal yang dulu terasa canggung.

Karena cinta yang tak sempat diungkap hanya akan tinggal sebagai penyesalan. Dan aku tak mau terlambat memeluk satu-satunya lelaki yang telah mengorbankan segalanya untukku, dengan cara yang paling diam, paling sederhana, dan paling tulus.

Komentar

  1. Lantas bagaimana denganku tuan, aku sendiri lupa bapakku yang mana?

    BalasHapus
  2. Waduhhh piye ceritanya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bapak saya juga bayar pajak om