Sesuatu yang ironis


 



Apa itu muak?


Wajahnya semanis itu, tapi lukanya sedalam samudra. Senyum yang bisa membuat siapa saja luluh, justru menyimpan tajam yang tak terduga. Aku selalu bertanya, bagaimana bisa seseorang yang tampak begitu manis, menjadi sumber luka yang begitu dalam? Dia datang dengan pesona yang memikat, namun di balik itu, dia membawa badai yang kerap mengoyak hati.

Dia mengaku muak, lelah dengan sikapku yang dianggapnya tak lagi tertahankan. Namun ironisnya, dia hanya memandang sekilas, tanpa pernah menyelami apa yang sebenarnya ada di balik segala tingkah dan kata-kataku. Hanya sebuah kilasan pandang yang dangkal, lalu langsung dijadikan alasan untuk menghakimi dan menuduh.

Padahal, di balik sikap yang dia labeli “menyebalkan,” ada usaha tanpa henti untuk bertahan dan mengerti. Tapi dia? Dia yang paling sering menuntut, paling cepat menyalahkan, dan paling sulit memberi ruang untuk berubah. Ego yang ia tutupi dengan kata-kata “muak” itu sebenarnya adalah tembok yang menghalangi dia untuk melihat kebenaran.

Dia merasa sudah tahu segalanya, padahal yang dia punya hanyalah prasangka yang sempit. Dia sibuk dengan pandangannya sendiri, sementara yang paling butuh pengertian justru terabaikan. Bukankah lelah itu seharusnya dirasakan oleh mereka yang memaksakan kehendak tanpa peduli sekeliling?

Jika memang muak, jangan hanya melihat bayangan. Bukalah mata dan hati lebih luas. Karena seringkali, yang paling egois bukanlah aku, melainkan dia yang memilih untuk tidak memahami.

Komentar

  1. Wahhh, setalah beberapa hari vakum akhirnya ada lagi tulisan baru hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata maaf yang saya rasa paling cocok ku ucapkan untuk hal itu. Wkwkwkwk

      Hapus
  2. Cukup mewakili kakss

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bapak saya juga bayar pajak om