Jarak
Ikhlas dalam jarak
Tidak semua rasa harus diwujudkan dalam bentuk kehadiran.
Kadang, mencintai justru tentang tahu kapan harus diam, kapan harus menepi bahkan saat hati masih berdebar karena namanya.
Aku belajar satu hal belakangan ini bahwa tidak semua orang senang dicintai dengan cara yang kita tahu. Ada yang justru merasa sesak ketika kita selalu ada. Ada yang terlihat tersenyum, tapi menyimpan letih di balik sapanya yang ramah. Dan di situlah aku mulai sadar barangkali kehadiranku bukan lagi kehangatan, tapi beban yang tak berani ia tolak secara terang.
Lalu, aku bertanya dalam sunyi.
Apa jadinya jika aku menjauh?
Apakah dia akan mencariku?
Atau bahkan tidak sadar aku tak lagi di sana?
Itu pertanyaan yang menyakitkan, tapi harus dijawab. Karena mencintai yang sehat bukan tentang terus menetap, tapi tentang tahu kapan harus memberi ruang. Mungkin, diam-diam, aku bukan rumah baginya. Hanya persinggahan singkat saat dunia terlalu riuh dan ia butuh tenang. Dan ketika ia kembali kuat, mungkin aku akan dilupakan seperti bangku taman yang hanya didatangi saat hujan turun.
Maka aku menjauh bukan karena aku menyerah, tapi karena aku menghormati. Jika benar aku bagian dari hidupnya, ia akan merasakanku meski aku tak lagi dekat. Tapi kalau tidak, biarlah ini jadi pelajaran: bahwa tidak semua cinta harus diperjuangkan sampai habis-habisan.
Menjauh bukan selalu tentang kehilangan. Kadang itu satu-satunya cara untuk tahu apakah dia mencintaimu atau hanya terbiasa dengan hadirmu.
Dan kalaupun tak ada kabar darinya setelah semua ini, setidaknya aku tahu: aku pernah mencintai dengan cara yang paling sunyi dan paling tulus.

Kok relatee banget yah sama kehidupan aku heheheh
BalasHapus