Bapak saya juga bayar pajak om


Perjalanan Si Rudi


Rudi sedang duduk di bangku warung kopi kecil, menghadap layar ponselnya. Ia baru saja membuka grup chat, tempat teman-temannya sering berdiskusi tentang kuliah dan kehidupan mereka. Beberapa pesan terkirim, dan hati Rudi terasa sedikit terguncang membaca kata-kata itu.

“Di sana cuma modal berangkat kuliah. Kalau mood nggak ada, bolos terus di kelas tidur aja. Sementara kita berangkat kuliah buat cari biaya,” bunyi salah satu pesan. Rudi menunduk. Kata-kata itu seperti disambar petir di siang bolong.

Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu betapa kerasnya perjuangannya. Di balik penampilannya yang sering tidur di kelas, Rudi berjuang mati-matian setiap hari. Sementara mereka bisa dengan mudah bangun pagi, bersiap, dan pergi ke kampus tanpa memikirkan banyak hal. Rudi harus bekerja keras, di warung kopi malam hari, hanya untuk menambah sedikit uang agar bisa melanjutkan kuliah.

Rudi menarik napas dalam-dalam. Sering kali ia merasa, semua ini tak pernah cukup. Tak pernah cukup dihargai, apalagi dimengerti.

Di grup yang sama, ada pesan lain yang meluncur, “Kita yang bayar di sini, anjirr.” Rudi tahu persis siapa yang menulis itu. Teman sekelasnya yang berasal dari keluarga mampu. Orang tuanya membayar uang kuliah tanpa harus memikirkan biaya lain. Berbeda dengan Rudi. Setiap semester adalah perjuangan besar.

Dia berusaha keras membiayai kuliah, bukan hanya dengan beasiswa yang ia dapatkan dari prestasi, tetapi juga dengan segala pengorbanan yang tak terlihat. Kadang dia merasa, betapa mudahnya mereka berbicara tanpa tahu apa yang ada di balik layar.

Pesan lain muncul, “Di sana cuma numpang tidur doang. Dengan alasan beasiswa prestasi.” Rudi terdiam sejenak. Apa yang mereka tidak tahu? Dia memang mendapatkan beasiswa, bukan karena jalur orang dalam, bukan karena kenal dengan seseorang, tetapi karena kerja keras dan prestasinya yang diakui kampus. Seringkali, dia harus begadang di malam hari untuk menyelesaikan tugas-tugas dan belajar, karena siang hari dia bekerja.

Mereka tidak tahu bagaimana rasanya, saat kau merasa seperti orang luar, bahkan di kampus tempat seharusnya kau merasa nyaman. Semua yang mereka lihat adalah Rudi yang tertidur di kelas. Tapi mereka tidak melihat perjuangannya yang sebenarnya.

Pesan berikutnya muncul. “Padahal lewat jalur orang dalam.” Rudi tertawa miris. Dia tahu betul apa maksudnya. Mereka berpikir ia mendapat beasiswa karena adanya koneksi, tetapi kenyataannya, setiap pencapaian Rudi diraih dengan kerja kerasnya sendiri, bukan karena siapa orang tuanya atau kenal siapa di kampus.

Lalu muncul pesan yang lebih menggelitik lagi. “Itu pajak bapakku, anjirr.” Rudi meremas ponselnya, mencoba menahan diri. Rudi tahu apa maksud teman itu. Uang kuliah memang berasal dari pajak, tapi bukan berarti orang yang membayar pajak secara otomatis berhak mendapatkan segala fasilitas tanpa usaha. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang, terlepas dari latar belakang keluarga mereka.

“Memang uang diambil terus gimana ceritanya?” lanjut pesan itu. Rudi merasa dirinya dipermalukan. Padahal, beasiswa yang ia dapatkan bukan untuk diambil begitu saja oleh orang lain. Itu adalah haknya, sebagai hasil dari kerja keras dan prestasi yang dia raih.

Namun, Rudi tak ingin terbawa emosi. Dia hanya tertawa dalam hati. Semua yang mereka katakan, baginya, hanyalah cerminan ketidaktahuan. Bahkan saat mereka berkata, “Kalau seandainya yang dibayarin memang beneran berprestasi, ya nggak apa-apa, ikhlas lillahi ta'ala aku,” Rudi tahu mereka tidak benar-benar mengerti apa itu perjuangan.

Pesan terakhir muncul, “Yang dimodalin kuliah malah modelnya preman-preman. Skenenya kayak begini.” Rudi tersenyum kecut. Mungkin bagi mereka, penampilannya yang sederhana ini tidak sesuai dengan harapan. Tapi apakah itu yang penting? Rudi berpikir, bukankah nilai yang lebih penting adalah usaha dan niat seseorang?

Rudi menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Mungkin dia tidak bisa mengubah cara pandang orang-orang itu, tetapi dia tahu satu hal: perjuangannya adalah miliknya, dan tidak ada yang bisa merampasnya. Ia menulis balasan singkat di grup chat, “Terima kasih atas perhatian kalian. Saya akan terus berusaha, semoga kalian bisa mengerti bahwa setiap orang punya perjuangannya sendiri.”

Rudi meletakkan ponselnya dan menatap secangkir kopi yang semakin dingin di depannya. Di luar, hujan mulai turun. Namun, Rudi merasa tenang. Dia tahu, bahwa setiap langkah yang dia ambil adalah bagian dari perjuangannya. Dan itu, lebih berharga daripada apa pun yang bisa mereka katakan.


Komentar

  1. curhatan hati rakyat kecil yang dianggap BESAR 🥲🫵🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya tidak tahu perihal itu, yang pastinya bapak ku juga bayar pajak

      Hapus
  2. Harus adil sejak dalam pikiran, jangan ikut-ikutan jadi hakim tentang perkara yang tidak diketahui benar-tidaknya🍂

    — Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

    BalasHapus
  3. Woww. Masha Allah

    BalasHapus
  4. Semuanya berlomba memantaskan diri, sambil membuat yang lain menepi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini