Manusia dan cinta yang tak pernah selesai
Manusia itu paradoks dalam cinta, terutama. Ia bisa berkata "aku tak butuh siapa-siapa", tapi matanya mencari satu sosok di tengah keramaian. Ia ingin dicintai sepenuhnya, namun takut kehilangan dirinya dalam pelukan yang terlalu erat.
Ia rindu, tapi enggan menghubungi duluan. Dalam hatinya, ia ingin menetap, namun kakinya gemar berjalan menjauh. Cinta, baginya, adalah pelabuhan sekaligus badai; tenang tapi mengguncang.
Ia menuliskan puisi tentang kesetiaan, sembari menyimpan nama lain di sudut pikirannya. Ia berkata, "aku tak percaya cinta", tapi diam-diam menunggu pesan dari seseorang yang mungkin tak pernah datang.
Di antara rindu yang malu-malu dan gengsi yang tak mau runtuh, manusia mencintai dengan caranya yang retak namun tulus. Karena sejatinya, manusia hanya ingin dimengerti, walau kadang tak paham dirinya sendiri. Itulah cinta dalam dada manusia: kontradiksi yang memeluk hangat, sekaligus menyisakan dingin.

menyala, ntah api dari mana ini. tulisan inikah? atau hati penulis?
BalasHapusWaduhh parahh sih🤧
BalasHapusRealita om🤧
BalasHapusHahaha saya rasa cuman saya yang mengalami hal ini, ternyata ada juga yah yang sama
Hapus