September
September
“Di setiap langkah kecil, kita belajar
bahwa cinta adalah perjalanan, bukan tujuan
yang harus dicapai”
Beberapa minggu setelah percakapan itu, aku sendiri merasa ada perubahan yang mulai terasa di udara. Kami tidak lagi hanya berbicara tentang apa yang harus kami capai, tetapi lebih banyak tentang bagaimana kami ingin menjalani hari-hari ini. Hubungan kami terasa lebih hidup, meskipun kadang ada keraguan yang masih membayangi. Kami mulai merencanakan waktu untuk bersama sebuah janji bahwa meskipun dunia kami sibuk, kami akan tetap menemukan momen untuk saling hadir.
Suatu sore, setelah kuliah selesai, aku menunggumu di ruang kelas. Kamu muncul dengan wajah lelah, matamu biasanya cerah kini sedikit redup karena tugas yang terus menumpuk. Namun, saat kamu melihatku, senyummu juga muncul begitu saja, seakan cahaya yang muncul di tengah awan gelap. Aku merasa sedikit lega.
“apakah aku boleh ikut ke kos mu?” tanyamu, tanpa basa-basi.
Aku mengangguk, sambil memikirkan apa yang ingin dia lakukan di kos ku.
Setelah melihat ku mengagguk kamu pun melanjutkan pertanyaanmu. “okedeh, nanti kita masak bareng, bagaimana?”
Mendengar jawabanmu tersebut, aku mengangkat alis kusembari tersenyum geli. “masak? Serius?”
“Kayaknya kamu butuh lebih banyak latihan di dapur”jawabmu.
Lalu, kau menepuk bahuku dengan lembut lalu berkata “jangan khawatir, ini bukan tentang masakan, tapi tentang kita menikmati waktu bareng.”
Kemudian kami pun berjalan menuju kos ku, suasana mulai terasa lebih ringan. Kami berbicara tentang tugas, tentang kelas, tentang mimpi-mimpi kecil yang kadang terlupakan karena kesibukan. Aku menyadari, kadang yang kami butuhkan bukan percakapan mendalam tentang masa depan, tetapi hanya berada bersama tanpa tujuan, tanpa beban.
Sesamapinya di kos ku, kami berdua pun masuk dan langsung menuju dapur. Tanpa basa-basi kamu pun mengeluarkan instruksi dan tugas untukku. Setelah mendengar kan beberapa ocehan dari mulut mu, aku pun memulai membuat pasta, sebuah ide yang menurutmu lebih mirip eksperimen daripada masakan nyata. Sementara kamu dengan cekatan memotong sayuran dan menyiapkan bahan lainnya.
Sembari membuat pasta aku bertanya padamu “kamu yakin ini berhasil? Jangan sampai jadi bencana di dapur, ya” tanyaku menggoda.
Kamu tertawa, melirikku dengan nakal. “nggak usah khawatir, aku ini ahli dalam menghindari bencana” jawabmu kepadaku.
Tidak mebutuhkan waktu yang lama apa yang sedari kami kerjakan sudah siap. Kami duduk di meja kecil di depan kos, menyantap makanan sederhana yang terasa luar biasa. Sembari menyantap makanan kami, kedua insan ini berbicara tentang segala hal dari tugas yang mebosankan hingga rencanliburan yang masih jauh. Tak ada yang spesial, tapi ada kehangatan yang mengalir begitu saja.
Setelah itu kamu pun tiba tiba berkata padaku “tahu gak” kamu berkata sambil menatap mataku dengan penuh arti, “kadang aku merasa kita lebih dari sekedar pacaran. Kita... ya, seperti dua orang yang sedang menemukan jalannya sendiri, tapi gak pernah benar-benar merasa sendirian, paham gak sih?” tuturmu padaku.
Aku terdiam, merasa ada sesuatu yang dalam, yang mengikat kami lebih dari sekedar hubungan cinta. Kemudian aku pun menjawab apa yang kamu bilang tadi “aku juga sebenarnya merasakan hal itu juga. Mungkin kita nggakselalu punya jawaban atas semua hal, tapi aku tahu, aku nggak mau jalanin hidup ini tanpa kamu.”
kamu pun tersenyum setelah mendengarkan jawabanku tadi, senyum mu kali ini lebih hangat bagaikan bulan purnama yang tak tertutup awan di malam hari. Lalu, kamu berkata “meskipun kita Cuma dua orang muda yang kadang gak tahu apa yang terjadi besok, akan tetapi kita tetap punya saat-saat yang kaya gini kan” katamu sambil meyakinkan kan diriku.
Kemudian, aku meraih tanganmu, menggenggamnya erat-erat. “iya, dan aku mau kita terus punya momen-momen kayak gini, meskipun semuanya nggak sempurna.” Jawabku padamu.
Kamu menatapku dalam-dalam, seakan mencoba mengingat setiap detail wajahku. “kadang aku takut kittaakan terjebak dalam rutinitas. Tapi, kalau kita saling jaga, aku rasa kitra bisa melewati apapun” katamu padaku.
Menejelang sore, di depan kos yang sederhana itu, aku merasakan cinta yang tidak hanya soal kebersamaan, tetapi tentang bagaimana kami bisa menjadi lebih baik untuk diri sendiri dan untuk satu sama lain.
Setelah kejadian itu, yah kami sudah sering bersama dalam hal apapun, akan tetapi keraguan masih membayangi diriku. Aku berasa dihantui dengan perkataan salah satu teman ku, bahwa jangan-jangan kamu dan dia itu termasuk orang yang terjebak dalam ketidakpastian, atau bisa kukatakan kita berdua ini sebenarnya bersama dalam ketikpastian. Beberapa minggu kemudian, kami pun sudah memasuki ranah perkuliahan yang sangan membebani bagiku, yakni ujian akhir semester. Kami mengahadapi ujian semester yang datang dengan segala kesulitan dan stres. Di tengah tumpukan buku dan rapat organisasi, aku merasa lebih dekat denganmu daripada sebelumnya. Kami tidak lagi hanya berbicara tentang apa yang harus kami capai di dunia luar, tetapi bagaimana kita bisa saling mendukung. Itulah yang aku rasakan walaupun kami berdua ada di masa-masa paling stres.
Suatu hari menjelang sore, setelah ujian yang sangat melelahkan, aku menunggumu di taman kampus. Seperti yang sering kita lakukan setelah hari-hari penuh tekanan. Aku duduk di bangku yang sama, di bawah pohon yang sama, menatap langit yang mulai berwarna merah kekuningan. Kamu datang dengan langkah lebih cepat, wajah lelah akan tetapi selalu memancarkan senyuman yang begitu hangat. Tanpa kata, kamu duduk di sampingku dan menyandarkan kepalamu di bahuku. Hening, namun sangat nyaman.
Lalu kamu berbisik padaku “aku capek banget” bisikmu pelan.
kamu melanjutkan kembali “tapi rasanya kalau kita lewati ini bareng-bareng, semuanya jadi lebih muda” lanjutmu dengan raut wajah yanng menggoda.
Setelah mendengarkan apa yang kamu bilang padaku dengan nada berbisik, aku menatapmu, merasakan kehangatan yang lebih dalam dari sekadar fisik.
“iya, aku tahu. Kita nggak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tapi selama kita tetap bersama, aku yakin kita bisa ngadepin apapun.” Jawabku kembali dengan nada yang menggoda.
Kamu mendongak, memandangku dengan tatapan yang tak bisa ku baca sepenuhnya, tapi terasa sangat dalam.
Kemudian kamu berkata padaku “aku nggak tahu apa yang akan datang. Tapi aku tahu, aku nggak mau lari dari apa yang kita punya sekarang” tuturmu padaku.
Dan di sore itu, di bawah langit senja yang akan hilang di telan dengan gelapnya malam, aku menyadari bahwa cinta kami bukanlah tentang memiliki segalanya, tetapi saling memberi-memberi ruang untuk tumbuh, memberi kesempatan untuk saling memahami, dan memberi dukungan di tengah ketidakpastian.
Hari-hari pun berlalu setelah kejadian di kampus sore itu muncul sesuatu dalam pikiranku yang ku beri nama langkah yang tak terlihat. Setelah kejadian hal tersebut, kami semakin dewasa dalam menjalani hidup ini kadang kami masih terjebak dalam kebingungan, mempertanyakan pilihan-pilihan besar yang kami harus buat tentang karier, tentang masa depan, tentang tempat kami berada setelah kami selesai di kampus ini. Tapi satu hal yang tidak pernaha berubah adalakami berdua selalu ada untuk satu sama lain, meskipun jalan hidup kami bisa jadi sangata berbeda. Akan tetapi dengan itu semua kuserahkan kepada yang maha mengetahui atas segala sesuatu.
Pada dasarnya kami berdua mulai menyadari bahwa huhbungan ini bukan hanya tentang menjaga satuu sama lain agar tetap utuh, tetapi tentang saling memberi ruang untuk berkembang sama halnya yang pernah kukatakan di halaman sebelumnya. Aku tahu, tidak ada jaminan apa yang akan terjadi besok. Tapi aku juga tahu bahwa setiap langkah yang kami ambil bersama akan membawa kami lebih dekat pada siapa kami sebenarnya.
Mungkin masa depan masih penuh dengan ketidakpastian. Mungkin nanti, kita akan terpisah oleh jarak atau waktu. Tapi saat ini, dengan semua impian dan ketakutan yang ada, kami melangkah bersama. Karena kami tahu, langkah-langkah kecil ini yang terlihat biasa saja akan membawa kita menuju tempat yang lebih baik, bersama-sama.
Alay
BalasHapusHehehehe
Hapus