Kenyang tidak goblok iyya

 


Program makanan bergizi yang digagas oleh Prabowo memang terdengar mulia, tetapi perlu dilihat lebih kritis dalam konteks keberlanjutannya. Kebijakan yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia ini seharusnya menjadi langkah positif, namun kenyataannya menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Ketika muncul sebuah berita anggaran pendidikan dipotong, entah itu untuk mendukung program ini atau untuk melanjutkan pembangunan IKN yang mangkrak saya rasa dampaknya jauh lebih besar dan merugikan. Banyak anak-anak yang seharusnya mendapatkan akses pendidikan yang layak, malah terpaksa kehilangan kesempatan tersebut karena anggaran yang lebih difokuskan pada makanan bergizi yang tidak merata.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, lebih dari 4 juta anak usia sekolah dasar masih menghadapi kesulitan dalam mengakses pendidikan, terutama di daerah-daerah terpencil dan miskin. Hal ini diperburuk dengan pemotongan anggaran pendidikan yang diambil untuk mendanai program makanan bergizi yang hanya sebagian kecil masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Makanan bergizi memang penting, tetapi tanpa pendidikan yang layak, masa depan anak-anak akan terhambat. Pendidikan adalah pondasi utama bagi kemajuan bangsa, dan tanpa itu, program gizi yang dijalankan hanya akan menciptakan generasi yang sehat, namun miskin pengetahuan dan keterampilan.


Sebagai contoh, jika anggaran pendidikan dipangkas, maka fasilitas pendidikan seperti sekolah, buku, hingga pelatihan untuk guru akan terganggu. Data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan bahwa pada tahun 2021, lebih dari 30% sekolah di daerah pedalaman kekurangan guru dan fasilitas pendidikan yang memadai. Inilah ironi dari kebijakan yang seharusnya mendukung tumbuh kembang anak-anak, malah mengorbankan hak dasar mereka untuk mendapatkan pendidikan yang memadai.


Dengan mengorbankan pendidikan demi gizi, negara malah menciptakan ketimpangan yang lebih besar. Anak-anak mungkin akan kenyang, tetapi tanpa pendidikan yang cukup, mereka akan tetap terperangkap dalam lingkaran kemiskinan dan ketertinggalan. Sebuah kebijakan yang seharusnya mendukung masa depan anak-anak malah memperburuk keadaan mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bapak saya juga bayar pajak om