Agustus

       Agustus 

   Bukan hanya laut yang ada pasang surutnya, hubungan pun

mempunyai pasang surut. 

 

Angin laut menghembus pelan di tanralili, udara yang segar setelah hujan badai malam itu menyapa angin, dan burung-burung yang kembali terbang, seolah menyambut pertemuan kami yang aneh ini. Aku, yang seolah terjebak dalam pertemuan tak terduga, mencoba mengatur langkah dengan hati yang bingung dan penuh tanya.

Aku masih ingat, setelah pertemuan kita yang keempat, aku mulai merasa ada sesuatu yang beubah dalam diriku. Biasanya aku hanya melihat dunia ini lewat egoku, menghindari hal-hal yang bisa mengganggu kenyamanan hidupku. Tapi kamu, dengan cara yang tak terduga, telah merusak kenyamananku itu. Aku tidak tahu apakah yang datang begitu saja tanpa disadari. Tapi yang jelas, perasaan itu semakin kuat.

“ahhh, siall” batinku.

Sambil menatap ke arahmu yang duduk di hadapanku. Kamu yang baru saja mengatakan kalau kamu suka padaku sejak pertama kali kita bertemu di Tanralili, saat malam itu. Hatiku berdebar, merasa ada sesuatu yang besar tengah berubah dalam hidupku.

“emang benar, kita bisa saling jatuh cinta meski belum lama kenal?” batinku bertanya-tanya.

Di tengah keheningan kita berdua kala itu, kamu tiba-tiba tersenyum dan dalam senyumanmu itu, aku melihat sesuatu yang berbeda dimatamu. Terlihat sebuah tatapan yanng lembut kepadaku dan penuh keyakinan. Aku tak bisa mengabaikan perasaan ini, meskipun aku berusaha keras untuk tidak terjatuh dalam jerat perasaan yang lebih dalam.

Yahh, tapi seperti yang selalu terjadi setiap kali kita bertemu, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak berhadapan dengan kenyataan itu. Kamu benar-benar ada, ada di hadapanku, dan kamu serius dengan apa yang kamu katakan barusan. Aku kembali menatap mu dalam-dalam, mencoba membaca setiap kata dan gerakan tubuhmu yang terkadang mengungkapkan lebih dari apa yang kamu katakan.

Muncullah ada beberapa pertanyaan dariku “tapi kenapa kita tidak bisa seperti ini saja, tanpa ada label? Tanpa harus menjadi apa-apa?” batinku.

Aku mencoba kembali mencari cara agar perasaan ini tetap terjaga, meski aku tahu perasaan itu semakin kuat setiap kali aku bersamamu.

Setelah itu, Kami kembali duduk dalam keheningan yang penuh makna, dan aku merasa seperti itu ada sesuatu yang menahan kami untuk berbicara lebih lanjut. Sebenarnya, aku tidak ingin mengungkapkan perasaanku, karena aku merasa bahwa jika aku melakukannya, itu akan mengubah segala hal. Namun, kamu malah membuka pembicaraan dengan tenang dengan mengatakan.

“kamu tahu gak? Setelah kita bertemu pertama kali, aku merasa ada sesuatu yang istimewa dalam diri kamu. Sejujurnya, ada cerita yang begitu panjang dibalik kenapa aku memberikan mu kopi tapi lupakanlah cerita panjang itu, setelah kuberikan kopi itu padamu. Entah, kenapa perasaan ini datang begitu saja.

Aku terdiam mendengar perkataanmu tadi.

“ternyata kamu juga merasakan hal yang sama denganku”batinku.

Aku merasa dunia seperti berhenti sejenak. Seakan-akan akumenemukan seseorang yang memahami apa yang aku rasakan, meskipun semuan ini terjadi dalam waktu yang singkat. Setelah itu, aku memutuskan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan.

“aku juga merasa seperti itu, meski aku tak tahu harus bagaimana” kataku padamu.

Lalu kau menjawab “ahh, masa”.

“yahh, sejak pertemuan pertama, ada sesuatu yang mengingatkanku padamu, tapi aku takut untuk terlalu berharap” kataku padamu.

Kemudian kamu tersenyum lembut kepadaku, lalu menjawab perkataanku tadi “jangan takut, kadang kita memang perlu mengambil resiko untuk merasakan sesuatu yang indah” jawabmu.

Mendengar jawabanmu, aku mengangguk, merasa kata-katamu menenangkan hatiku yang masih berdebar. Setelah perbincangan itu, kita kembali terdiam. Namun, kali ini keheningan itu tidak terasa canggung.. sebaliknya, ada kedamaian yang muncul di dalam diriku.

 

 

Di tengah keheningan 

 

Bukan hanya bulan yang hilang,

Di langit Tanralili yang gelap,

Ada sesosok bayangan yang terpatri,

Di dalam jantung yang berdetak lebih cepat.

 

Kau datang tanpa diundang,

Seperti angin yang membawa debu,

Menyentuh hati yang selama ini yang terjaga,

Membuatku bertanya pada diri:

Apakah ini yang disebut takdir?.

 

 

Dalam senyumnyu, aku melihat harapan,

Dalam matamu, aku menenmukan cinta,

Meskipun kita tidak tahu kemana arah ini,

Aku ingin kita berjalan bersisian.

 

Langit malam ini masih gelap,

Namun, kau hadir sebagai bintang,

Dan aku, yang dulunya ragu,

Kini bersedia merangkuhmu tanpa ragu.

 

Setelah pertemuan itu, aku merasa seolah-olah sebuah babak baru dalam hidupku telah dimulai. Semua rasa ragu yang dulu ada, perlahan-lahan menghilang. Bahkan dalam setiap detik yang berlalu, perasaan ini semakin kuat, semakin tak terbendung. Aku tidak tahu apakah ini akan menjadi sebuah ceritqa indah atau justru sebuah kisah yang penuh dengan luka. Tetapi, aku merasa bahwa ini adalah jalanku.

Namun, meskipun aku merasa dekat denganmu, aku tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa hidup tidak sesederhana yang aku bayangkan. Ada begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan. Ada keluarga, masa depan, adabanyak pilihan yang harus diambil. Tidak semua hal bisa ditentukan hanya dengan perasaan. Aku masih harus memikirkan segalanya dengan kepala dingin.

Kamu tahu itu. Kamu tidak pernah memaksaku untuk terburu-buru mengambil keputusan. Kamu selalu memberi ruang, memberi waktu. Dan itulah yang membuatku semakin yakin. Kamu bukan hanya seorang yang datang begitu saja dalam hidupku, tetapi seseorang yang datang dengan cara penuh makna.

Pada akhirnya, setelah berbulan-bulan, aku memutuskan untukmengikutimu. Tak lagi hanya bertanya pada hati, tapi juga pada logika. kami pun menjadi satu pasangan, tanpa harus ada kata yang perlu diucapkan. Kami saling memahami tanpa banyak bicara di antara kami.

Perjalanan kami bersama seperti sebuah perjalanan panjang tanralili. Terkadang sunyi, terkadang gaduh, namun selalu ada keindahan dalam setiap langkah. Dan aku tahu, sejauh apapun kami berjalan, kami akan tetap bersama, selamanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dunia Baru

 

Di tanralili yang jauh,

Dibalik bukit dan danau,

Kita mulai melangkah bersama,

Menuju dunia baru.

 

Dengan langkah yang pasti,

Meski kadang ragu,

Kita hadapi hidup,

Dalam diam penuh makna.

 

Semoga cinta ini tak lekang oleh waktu,

Semoga kita selalu menemukan jalan yang satu,

Di setiap detik yang kita jalani bersama,

Semoga tanralili menjadi saksi cerita kita.

 

 

 

Cerita kita memang belum berakhir. Tanralili adalah tempat pertama kita bertemu, dan mungkin tempat yang akan selalu menyimpan kenangan indah. Setiap pertemuan yang tak terencana, setiap langkah yang kita ambil bersama, semua itu membentuk sebuah kisah yang tidak hanya tentang kita, tapi juga tentang dunia yang lebih besar di luar sana. Kami, dua individu yang dipertemukan tak dengan cara yang tidak disengaja, kini menjadi bagian dari takdir yang lebih besar.

Kembali lagi di cerita sebelumnya keseharian kita setelah kejadian yang tak pernah disengaja. Setelah pertemuan tak terduga itu, hidupku seolah berputar ke jalur yang baru. Keputusan untuk mengikuti perasaanitu membawa aku dan kamu ke dalam kehidupan yang tak pernah kubayangkansebelumnya. Ada ketenangan dalam kebersamaan kita, dan meskipun kita tidak pernah mendefinisikan hubungan ini secara pasti, rasanya kami sudah saling mengerti tanpa perlu banyak bicara. Waktu berjalan dengan cara yang berbeda, lebih lambat, lebih dalam, dan lebih bermakna.

Setiap pagi, saat mentari mulai menyinari tanah yang masih basah dari hujan malam sebelumnya, kita mulai hari-hari kita bersama. Kamu selalu jadi yang pertama bangun, meskipun malam sebelumnya kita tidur larut karena obrolan panjang yang tak pernah usai. Dengan wajah yang penuh semangat, kamu akan menyeduh kopi dan segera membawakan ku di kos yang aku tinggali, aroma kopi yang selalu membawa ketenangan di pagi hari. Setelah itu, akau akan duduk di beranda, menikmati udara pagi yang segar, menatapmu dengan senyum sederhana. Kamu selalu tahu cara membuat kopi yang tepat tidak terlalu pahit, tidak terlalu manis, sempurna.

“kopi? Atau kau leebih suka teh?” katamu sambil menyerahkan cangkir tersebut kepadaku.

“seperti yang selalu kamu buat, tida perlu perubahana” jawabku sambil menerima cangkir itu, merasa damai setiap kali meminumnya.

Yah seperti sebelumnya kami akan duduk bersama, menikmati secangkir kopi di beranda, saling bicara tentang hal-hal kecil dalam hidup. Seperti apa yang akan kita lakukan hari itu, atau bagaimana rasanya hidup di tengah alam yang masih asri. Tak jarang kita mengobrol tentang masa lalu, mengenang perjalanan yang sudah kita lalui masing-masing, dan bagaimana tanralili seakan menjadi titik balik yang mengubah cara kita memandang kehidupan.

Setelah semua itu, hari-hari kita sering dipenuhi dengan kegiatansederhana yang terasa begitu berarti. Yah seperti halnya kamu sesekali mengajakku berjalan-jalan ke hutan, menyusuri jalan setapak yang terjal, serta menikkmati keheningan alam. Di setiap langkah kita, aku merasa semakin dekat denganmu. Tidak ada kebisingan hanya suara alam yang menemani perjalanan kamiTerlepas itu, kamu juga sering bercerita tentang hal-hal yang dulu tak pernah ku dengarTentang impianmu, tentang perjalanan hidupmu, dan tentang masa depan yang ingin kamu bangun bersamaku.

Pernah disuatu waktu, aku bertanya kepadamu “apa yang membuatmu memeilih tanralili sebagai tempat untuk melupakan segalanya?”

Kamu lantas tersenyum dan menjawab pertanyaan tersebut yah, kadang kita butuh tempat untuk kembali ke asal-usul kita. Tempat yang bisa membuat kita merasa hidup dengan lebih sederhana. Nah maka dari semua itu tanralili memberikan kepadaku sesuatu yang kucari dari dulu”

Setelah mendngar jawaban tersebut aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk. 

Aku tahu, kami berdua sudah menemukan tempat, yang dimana tempat itu seolah-olah memberikan kami ketenangan untuk jiwa yang lelah ini. Tanralili bukan hanya sebuah tempat yang ada di peta pendakian, akan tetapi juga sebuah ruang dalam hati, tempat kami bisa berbicara tanpa kata batinku berkata.

Aku merasa kami berdua mempunyai kesamaan. Selain kami suka ke hutan atau naik gunung, sesekali kami juga biasa menghabiskan waktu di dekat danau. Kami akan membawa bekal sederhana, duduk di bawah pohon besar, menikmati cahaya matahari memantul di permukaan air, dan diiringi lagu iwan fals kembang pete. Aku tahu kamu itu, orang yang suka berfoto-foto ada hal yang indah langsung foto, tapi aku menyukainya seringkali saat kamu sedang asyik berfoto-foto aku selalu mencuri pandangan melihatmu tanpa kamu ketahui. Aku merasa setiap melihat mu berfoto ada sesuatu dalam dirimu yang begitu alami, seperti pemandangan yang selalu mengundanag kekaguman.

Setelah beberapa kali aku mencuri pandangan melihatmu, tiba-tiba kamu bilang padaku “jangan terlalu serius, hidup ini jangan terlalu dipikirkan” katamu sambil tertawa ketika melihat ekspresiku yang kaku.

Terus kujawab “yah bagaimana jika aku ingin semuanya sempurna”

Kamu pun tertawa lagi, dan kali ini lebih keras hingga mebuatku juga ikut tertawa. Setelah semua hal itu lah kita, saling mengisi dalam kebersamaan yang tak terduga.

Tapi pernah suatu ketika saat kami sedang menikmati malam di pinggiran kota, kamu tiba-tiba bertanya kepadaku

“aku pernah berfikir, apa yang terjadi jika kita tidak bertemu di tanralili kala itu, mungkin kah  kita akan terus menjalani hidup tanpa pernah tahu bahwa ada seseorang yang bisa memahami kita?” 

Aku mentapmu, lalu menjawab “hmm, mungkin hidup kita akan tetap berjalan, tapi kita tidak akan pernah tahu sejauh apa kita bisa berkembang tanpa bertemu satu sama lain”

Mendengar jawabanku, kamu pun tersenyum dengan tenang lalu menatap ke atas seakan memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kebersamaan ini.

Aku rasa hidup ini bukan soal menemukan kebahagiaan” tiba-tiba kamu melanjutkan perkataanku tadi.

Tapi soal memilih  untuk menjalani hidup dengan orang yang bisa kita percayai, yang bisa berjalan bersama kita meski segala macam rintangan yang datang lanjutmu lagi.

Aku terdiam mendengar kata-katamu. Sebuah kalimat sederhana yang akan membuka mataku tentang arti sejati dari kebersamaan. Kami tidak perlu sempurna. Kami hanya perlusaling mendukung dalam setiap langkah yang kami ambil.

Kejadian malam itu, membuatku merasa bahwa hubungan ini bukan hanya tentang kita berdua. Seiring berjalannya waktu,kami mulai saling memahami tidak hanya sebagai pasangan,tetapi sebagai individu yang sedang belajar bersama. Kami harus merencanakan masa depan, meskipun terkadang aku merasa cemas dan ragu. Ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan. Perkuliahan, orang tua bahkan keputusan-keputusan besar yang mungkin akan mengubah hidup kami. Tapi satu hal yang selalu kami yakini apapun yang terjadi, kami akan menjalani semuanya bersama.

Yah seperti hubungan pada umumnya terkadangpasti ada saja perdebatan. Entah itu, perdebatan kecil atau perdebatanpendapat, aku masih merasa ada ruang untuk tumbuh bersama. Ada banyak hal yang harus di selesaikan, banyak pertanyaan yang masih belum terjawab. Namun, denganmu disisiku, aku merasa tidak ada yang tidak mungkin. Setiap langkah yang kami ambil terasa lebih ringan karena kami berjalan bersama.

Sore itu, di tengah keramaian kampus yang tak pernah sepi, aku duduk di bangku panjang depan perpustakaan. Buku-buku dan catatan kuliah yang berserakan di meja terasa seperti latar belakang dari dunia yang sedang aku jalani. Semua terasa begitu biasa, namun juga asing. Apalagi setelah beberapa minggu terakhir, ada sesuatu yang mengubah caraku melihat dunia, melihat hubungan kami dan melihat masa depan.

Seperti biasa kamu duduk di sebelahku. Menyibukkan diri dengan ponsel, lalu menatapku dengan tatapan yang selalu aku cari penuh pertanyaan dan penuh harapan.

“kamu lagi mikirin apa” tanyamu.

membuka percakapan dengan cara yang sama setiap kali kita bertemu setelah kelas.

Aku menghela nafas, mengalihkan pandanganku dari buku yang tak kunjung kupahami.

“mikirin kita, sih” jawabku.

Kamu terkekeh pelan mendengar jawabanku, seolah tak terkejut.

“kita lagi yah, ada apa sekarang?” Kamu kembali melontarkan pertanyaan.

Aku menggigit bibir, mencoba merangkai kata-kata yang tepat.

“mungkin ini terdengar konyol, tapi...aku mulai merasa ragu. Kita pacaran, tapi rasanya semuanya semakin rumit. Aku sering mikirin masa depan, sementara kita cuma dua mahasiswa yang masih mencari jati diri” jawabku.

Kemudian kamu mengangguk pelan setelah mendengar jawabanku, seakan-akan memahami apa yang barusan kuucapkan.

“aku juga ngerasa itu. Kita masih muda, masih banyak harus dipikirin tugas, karir, masa depan... tapi kadang, aku merasa kita udah terlalu nyaman” ucapmu melanjutkan jawabanku tadi.

Aku menyerngitkan dahi lalu berkata. “terlalu nyaman?”

“iya” jawabmu.

Lalu kamu melanjutkan kembali “kita itu terlalu nyaman berada dalam hubungan ini, tanpa benar-benar mempertanyakan apa yang kita inginkan. Seakan kita cuman ikut arus. Aku kadang merasa, apakah ini cuman soal kita tidak ingin kehilangan satu sama lain, ataukah kita benar-benar tahu kemana hubungan ini mau dibawa?”

Mendengar jawabanmu aku kembali terdiam. Seolah-olah ada sesuatu yang menohok di dada, sebuah perasaan yang selama ini kuabaikan. Aku tahu kamu benar kita sudah terlalu nyaman, terlalu tenggelam dalam rutinitas sehari-hari. Mungkin kita takut melangkah keluar dari zona nyaman itu, takut jika langkah berikutnya akan merubah segalanya.

Hari-hari setelah itu berjalan lebih berat. Kita kembali ke kehidupan kita masing-masing tugas-tugas yang menumpuk, deadline yang selalu datang lebih cepat dari yang diharapkan dan rasa lelah yang tak pernah hilang. Aku mulai merasakan perasaan yang berbeda, seperti ada jarak yang tak terucapkan di antara kami. Bukan karena kita bertengkar, bukan juga karena ada yang salah, tapi karena kita seperti terjebak dalam lingkaran rutinitas yang semakin rapat.

Aku sering melihat kamu duduk di kantin kampus, mengerjakan tugas dengan serius, kadang terhenti sebentar untuk melirik ponsel. Ada kesibukan baru yang datang dari dunia luar dan aku merasa sedikit terabaikan di sisi lain. Begitu juga dengan aku. Kita masing-masing sibuk dengan dunia kita sendiri, dengan ambisi pribadi yang terus berkembang, seolah hubungan kita hanya menjadi pelengkap.

Pernah suatu sore, kita berjalan pulang dari kampus, melewati jalan yang biasa kita lewati bersama. Lalu, kamu berjalan sedikit di depan, seolah kamu lebih sibuk dengan langkahmu sendiri

“Apakah kamu masih ingin seperti ini?” tanyaku dengan suara yang terdengar ragu.

Kamu berhenti sejenak, lalu berbalik menatapku dengan senyum yang agak dipaksakan. Bukannya kamu menjawab pertanyaan ku tadi malah kamu nanya balik dengan nada yang seolah-olah menggertak ku.

“apa maksudmu?” jawabmu.

Tanpa berfikir panjang langsung kujawab pertanyaan tersebut.

“ya, aku merasa kita sudah mulai menjauh. Kita terlalu fokus dengan dunia kita masing-masing, sementara hubungan initerasa hanya sekedar rutinitas. Aku bingung, kita ini masih pacaran atau Cuman  teman yang kebetulan saling dekat?”

Setelah mendengar jawabanku kamu pun terdiam, aku tahu kamu juga merasakannya. Tetapi, seperti biasa, kamu memilih untuk tetap tenang.

“Aku juga sering mikir tentang itu, tapi kadang aku merasa hubungan ini bisa jadi lebih baik kalau kita fokus pada masa depan kita, pada apa yang kita inginkan di luar hubungan ini”jawabmu.

Aku kemudian mengangguk, seolah-olah perasaan itu semakin jelas. Kita berdua masih terlalu muda untuk mengerti apa yang benar-benar kita inginkan. Kita sama-sama terjebak dalam harapan dan ketakutan yang tak terucapkan, mengira bahwa cinta saja tidak cukup untuk menyelesaikan semuanya.

Namun, percakapan kita kemarin bukan lah akhir dari semuanya. Keesokan harinya kita mencoba kembali untuk lebih terbuka. Tidak hanya tentang hubungan ini, tetapi juga tentang apa yang kita impikan di luar sana. Mungkin hari ini adalah hari yang indah semua perdebatan kecil kita kemarin tiba-tiba di lupakan. Kali ini, kami mulai berbicara tentang masa depan masing-masing, tentang karir, tentang impian yang belum sempat tercapai. Ternyata, setelah semua kebingungan ini, kita kembali menemukan kedekatan yang hilang bukan karena kita harus berjuang untuk cinta itu, tetapi karena kita berdua akhirnya menyadari bahwa hubungan ini bukan hanya tentang sekarang, tetapi juga tentang bagaimana kita saling mendukung dalam perjalanan masing-masing.

Setelah percakapan itu kami pun beranjak menuju pinggiran kota tempat yang biasa kami pergi saat sedang pusing dengan segala tuntutan kehidupan. Sesampainya disana sambil menikmati pemandangan di pinggir kota dan menyeeruput kopi yang memang sudah aku buat sebelum berangkat kamu pun mulai membuka percakapan dengan melontarkan beberapa kata yang mebuatku terpaku sejenak.

Kamu berkata dengan tenang “kita mungkin nggak tahu bagaimana akhirnya nanti. Tapi, selama kita bisa jalanin ini bareng-bareng, itu sudah cukup”.

Setelah terpaku sejenak mendengar perkataanmu. Aku pun tersenyum sembari menyuruput kopi ku, aku menyadari bahwa betapa pentingnya perjalanan ini.

“Aku juga nggak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku tahu aku gak mau berjalan sendirian. Kita akan temui jalan kita, meskipun harus melalui banyak rintangan” jawabku melanjutkan apa yang kamu bilang barusan.

Lalu kulanjutkan kembali “Dan di sana, diantara tugas yang tak pernah selesai dan kehidupan kampus yang terus berputar, aku menyadari bahwa ini bukan sekedar tentang memilih antara cinta dan ambisi. Ini tentang memilih untuk tetap berjalan bersama meskipun kita tahu bahwa langkah kita tidak selalu mudah lanjutku.

Kamu pun tersenyum mendengar apa yang tadi kuucapkan. Tak terasa waktu sudah mendekati magrib kami berdua pulang ke kos masing-masing.

Beberapa bulan berlalu setelah kejadian itu. Hubungan kami pun tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi sebuah proses yang terus berkembang seiring perjalanan kita bersama. Kami tetap fokus pada studi dan masa depan, tetapi juga belajar bagaimana memberi ruang untuk cinta itu sendiri. Kadang-kadang kami duduk bersama tanpa bicara banyak, hanya sekedar menikmati kebersamaan yang kami miliki seperti saat-saat kita berada di tanralili kala itu, ketika semuanya terasa lebih sederhana dan menyenangkan.

Banyak hal yang aku dapatkan dari pertemuan kemarin salah satunyaa ialah aku mulai memahami bahwa hubungan ini bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai, akana tetapi dua individu yang tumbuh bersama, meskipun jalan hidup kami bisa sangat berbeda. Kami berdua tahu, masa depan ini tidak  pasti, tetapi kami yakin bahwasanya selama kami bersama, kami bisa melewati apapun yang datang. Dan dengan itu semua, kami akan melangkah maju, tidak lagi takut pada perubahan, tetapi siap untuk menjalaninya. Karena kadang, cinta itu bukan hanya tentang berada di tempat yang tepat, tetapi tentang siap tidaknyakita menempuh jalana yang belum jelas, bersama-sama.

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

  1. "kamu bukan hanya seorang yang datang begitu saja dalam hidupku, tetapi seseorang yang datang dengan cara penuh makna"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebaliknya kamu datang dan meninggalkan beberapa bait kata, yang sampai sekarang masih kupikirkan

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bapak saya juga bayar pajak om