Juni
Tanralili Di Mana Takdir Bertemu
Aku berjalan jauh, meninggalkan jejak yang sepi,
Ke Tanralili, di mana angin berbisik lembut,
Mencari ruang di antara sunyi yang dalam,
Di sana, aku berharap menemukan diriku yang hilang.
Pegunungan berbicara dalam diam yang abadi,
Setiap langkahku adalah perjalanan menuju kedamaian,
Namun, di balik kesunyian itu, takdir mengalir,
Melalui pertemuan tak terduga yang membawa jawaban.
Seorang wanita yang datang dengan senyuman yang tulus,
Secangkir sirup, dan kata-kata yang menyentuh hati,
Kami berbicara tentang perjalanan, tentang pencarian,
Tanralili, tempat di mana segala yang tersembunyi terungkap.
Di sini, aku menemukan lebih dari yang kucari,
Bukan hanya kedamaian, tetapi makna yang lebih dalam,
Kadang, perjalanan bukan tentang tujuan yang jelas,
Tapi tentang peertemuan, dan bagaimana takdir berbicara tanpa suara.
@Yusrimallu_
Juni
“berjalan tanpa arah dan tujuan
adalah dua kata yang sederhana tapi sulit”
Kita kembali ke bulan juni adalah perjalanan ke tanralili bukanlah sebuah keputusan yang diambil secara tiba-tiba. Ada banyak hal yang mendorongku untuk pergi ke sana, meskipun sebenarnya aku sudah lama merasa nyaman dengan rutinitas kehidupanku yang sederhana dan tenang. Namun, seperti yang sering terjadi, ada kalanya kehidupan memberi kita pilihan yang tidak bisa kita hindari. Seperti sebuah suara kecil yang memanggil, mengajakku untuk keluar dari zona nyaman tersebut.
Beberapa bulan sebelumnya, aku merasa dunia di sekitarku mulai terasa monoton. Segala hal yang kulakukan, dari pekerjaan hingga waktu senggang, semuanya berjalan dengan begitu biasa. Aku merasa terjebak dalm rutinitas yang tak memberi makna baru. Seperti aku berjalan dalam lingkaran yang sama, tak ada perubahan yang cukup berarti. Hanya ada rasa hampa yang perlahan menggerogoti pikiranku.
Aku ingat dengan jelas saat itu. Pagi yang cerah, tapi hatiku terasa berat. Aku baru saja mengahadiri pertemuan yang entah kenapa membuatku merasa semakin lelah. Tugas yang menumpuk deadline yang datang tanpa ampun, dan segala ekspektasi yang terus mendesakku. Semuanya membuatku merasa seperti robot yang hanya menjalankan program tanpa ada ruang untuk bernafas.
Batinku berkata “aku butuh pelarian, aku butuh waktu untuk merenung, untuk menemukan kembali siapa diriku!”.
Kala itu muncullah dibenakku untuk memulai perjalanan ku di sebuah danau di atas gunung yang bernama tanralili dengan ketinggian 1454 Mdpl. Tanralili adalah tempat yang kuinginkan, meski aku tak tahu persis apa yang aku kutemui disana. Aku mendengar cerita tentang tempat itu dari seorang teman yang pernah menjelajah ke sana. Tanralili dengan pesonanya yang masih alami, pegunungan yang menantang, dan keheningan alamnya, sepertinya menjadi tempat yang tepat untuk menenangkan diri, untuk mecari kedamaian dan kebijaksanaan yang entah hilang di mana. Aku merasa Tanralili akan memberi aku apa yang aku butuhkan-waktu untuk berpikir dan untuk memulihkan diriku.
Setelah itu aku pun memutuskan untuk pergi. Aku tidak memberitahukan hal tersebut kebanyak orang hanya ada beberapa yang kuberritahu tentang kepergianku ke Tanralili. Pada saat itu, aku hanya mengemas barang-barang yang kubutuhkan, memilih untuk tidak terlalu banyak berpikir. Hanya aku, sepeda motor, dan perjalanan panjang menuju tanralili yang terletak jauh dari hiruk-pikuk kota. Saat itu, aku merasa seperti orang yang lebih dari sekadar rutinitas. Perrjalanan kali ini berbeda dari perjalanan-perjalananku sebelumnya disini akuingin menemukan diriku lagi, atau mungkin merasakannya untuk pertama kalinya.
Singkat cerita karena aku kurang mengingat hal tersebut sampailah aku di tanralili. Perjalanan panjang menuju tanralili menyisakan banyak waktu untuk merenung. Melalui jalanan yang berliku, aku merasa semakin jauh dari keramaian dan semakin dekat dengan kedamaian. Aku merasa udara di basecamp pendakian tanralili begitu berbeda. Udara pegunungannya segar, seakan menyucikan setiap helaan nafas. Singkat kumulailah pendakian ku kala itu, sesekali aku berhenti sejenak untuk mengagumi pemandangan alam yang luar biasa indah-hijau yang menenangkan mata gunung yang menjulang dengan anggun, dan awan yang melayang dengan bebas.
Saat itu juga batinku berkata “sungguh indah ciptaan Tuhan, aku merasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk melihat sekian banyak ciptaan Tuhan”.
Setiap kali kakiku melangkah lebih jauh ke dalam hutan dan pegunungan ke danau tanralili, aku merasa dunia yang kusentunnsudah berbeda. Aku tidak lagi dikelilingi oleh suara kendaraan dan kalakson orang-orang yang terburu-buru. Hanya ada suara alam-angin yang berdesir di antara reimbunan daun dan pepohonan, suara aliran sungai yang menenangkan, dan seskali suara burung yang bernyanyi. Aku merasa bahwa aku bisa mendengarkan diriku sendiri lebih jelas di sini.
Namun, ada satu hal yang selalu menggangguku sepanjang perjalananku “aku merasa seperti ada sesuatu yang menunggu di ujung sana, ada sesuatu yang seolah-olah menarik diriku untuk datang ke Tanralili” batinku.
Tanpa aku sadari, perasaan itu sudah mulai mencuat, meski aku berusaha mengabikannya. “Sudahlah mungkin ini hanya efek dari perjalanan yang lama, atau mungkin aku memang sedang mencari sesuatu yang lebih dari sekadar ketengan” batinku.
Lagi-lagi batinku kembali bertengkar dengan hal yang itu. Ahh lupakan!!! Aku mencoba kembali untuk fokus menikmati perjalanan ini tanpa terbawa oleh pikiran yang tidak perlu.
Sesampainya aku di danau Tanralili, timbulah suatu perasaan. Aku merasa seolah menemukan tempat yang telah lama kucari. Aku memilih untuk beristirahat di sebuah pohon yang tak jauh dari area camp. Kala itu, suasana di sekitar sangat tenang, hanya ada beberapa pendaki yang sedang menikmati pemandangan sunset di tepi danau tanralili. Terlepas dari itu aku merasa di sini, aku bisa melakukan apapun tanpa ada yang mengganggu. Aku bisa kembali merasakan diri ini tanpa ada tekanan.
Namun, saat aku tengah mempersiapkan perlatanku untuk membuat kopi, tiba-tiba seseorang wanita datang menghampiriku. Dengan celana kargo dan kemeja flanel yang tampaknya sudah sedikit kotor oleh perjalanan, dia tampak seperti pejalan sejati. Aku terkejut saat dia datang menghampiriku dan menawarkan secangkir sirup (kopi manis). Akan tetapi yang membuatku lebih terkejut tiba tiba dia melontarkan satu kalimat.
“Sembari menyiapkan alat memasakmu ini kopi minumlah, aku tahu kau lelah” katanya dengan senyum yang begitu tulus.
Aku terdiam sejenak, merasa sedikit kikuk, namun akhirnya aku menerima tawarannya. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya di halaman pertama dia duduk di sampingku, seolah-olah kita sudah lama saling kenal, padahal ini adalah pertama kalinya kami bertemu. Obrolan kami kala itu mengalir begitu saja, seperti sudah ada hubungan yang terjalin lama. Setelah itu, kami saling berbagi cerita tentang perjalanan hidup kami, tentang apa yang membuat kami memilih untuk datang ke danau Tanralili, tentanag segala hal yang selama ini mengganjal dalam hati. Aku merasa seperti menemukan seseorang yang bisa memahami perasaanku tanpa perlu banyak kata.
Selang beberapa waktu saat kami sedang asyik berbincang, tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tiba-tiba aku menyadari bahwa sudah hampir pukul dua pagi. Dia pun memutuskan beranjak untuk pergi, dan aku kembali terdiam, menatap langit yang gelap tanpa bulan. Seperti yang selalu terjadi pada setiap pertemuan yang aku alami, ada rasa kehilangan yang tiba-tiba muncul setelahnya. Tanralili yang tadinya begitu tenang, kini seolah-olah menjadi lebih sepi. Namun, di balik kesepian itu, aku merasakan ada sesuatu yang lebih-sesuatu yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
Kunamai perjalanan ke Tanralili kala itu adalah sebuah pencarian. Aku sendiri datang keTanralili bukan hanya untuk mencari ketenangan, tetapi juga untuk mencari jawaban. Aku ingin tahu siapa aku sebenarnya, apa yang sebanarnya aku cari dalam hidup ini dan apa yang bisa aku temukan ketika jauh dari segala rutinitas. Aku ingin mencari makna hidup, dan Tanralili, dengan segala kesederhanaan dan kedalamannya, adalah tempat yang tepat untuk semua pertanyaan itu.
Namun, pertemuan yang ku sebut di halaman pertama pertemuan yang tak terduga denganmu, dengan wanita yang menawarkan secangkir sirup itu, akan mengubah segalanya. Dari semua yang aku niatkan untuk perjalanan ini. Kini, aku mulai bertanya-tanya apakah perjalanan ini sebenarnya hanya bagian dari takdir yang lebih besar. Maka, berangkat dari hal itu muncullah beberapa yang mebuatku bertanya-tanya pada batinku.
“apakah pertemuan kita di Tanralili ini adalah sebuah petunjuk bahwa ada sesuatu yang lebih penting yang harus aku temukan dalam hidupku?” batinku bertanya.
“apakah tanralili datang kepadaku dengan cara yang tak terduga, memberiku sebuah jawaban yang belum pernah aku duga sebelumnya?” ahhh sial!!! pertanyaan-pertanyaan itu membuatku bertengkar hebat dengan batinku sendiri.
Aku sebenarnya tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, tapi aku merasa bahwa pertemuan kita bukanlah kebetulan semata. Aku merasa Tanralili telah memberiku lebih dari sekadar ketenangan alam. Tanralili memberiku kesempatan untuk merenung, untuk mencari arti yang lebih dalam tentang diriku sendiri, dan tentang orang-orang yang akan datang dalam hidupku, sekaligus menghidupkan kembali jiwa yang telah lama mati ini.
Dengan semua yang telah terjadi, aku mulai menyadari bahwa hidup ini tidak selalu harus memiliki rencana yang jelas. Kadang, kita hanya perlu mengikuti arus takdir yang datang dengan cara yang misterius, dan terkadang jawaban yang kita cari ada pada perjalanan itu sendiri.
Kembali lagi setelah keperenjakanmu pergi meninggalkanku, di tengah kesunyian Tanralili kala itu, aku mulai menyadari betapa banyak yang telah kulalui tanpa benar-benar melihatnya. Semua hal yang sebelumnya terasa seperti rutinitas yang membelenggu, kini tampak seperti pelajaran yang membentukku. Tanralili, dengan keheningan dan kedalamnnya, seakan mengajarkanku bahwa ketenangan bukan hanya tentang jauh dari hiruk-pikuk kota atau jauh dari suara kendaraan dan klakson orang yang terburu-buru, akan tetapi tentang menyelami hati yang seringkali terabaikan.
Saat malam kembali menyelimuti diriku, aku beranjak pergi ke tepi danau Tanralili sambil memandangi nyala api unggun kecil yang menari-nari. Di dalamnya, aku seolah melihat bayangan-bayangan perjalanan hidupku, penuh dengana keraguan dan pencarian, tapi juga penuh dengan harapan.
Tanralili, meskipun sepi, memberikan ruang bagi pikiranku untuk bersuara, untuk berdebat dengan diri sendiri, da akhirnya untuk menerima kenyataan bahwa hidup ini adalah perjalanan tanpa akhir.
Tidak berselang lama setelah itu, tiba-tiba aku kembali teringat lagi dengan sosok wanita itu.
Secangkir sirup, kata-kata yang sederhana, akan tetapi terasa sangat dalam. Sekali lagi kukatakan bahwasanya tanralili bukan hanya memberikan kedamaian padaku, tetapi juga menjadikan pertemuan itu sebagai sebuah pelajaran tentang ketulusan dan keberanian. Keberanian untuk berbicara tentang hal-hal yang tida pernah terucapkan, keberanian untuk mendengar diri sendiri, dan keberanian untuk membuka hati terhadap kemungkinan-kemungkinan yang selama ini tersembunyi.
Lagi dan lagi pertanyaan itu kembali muncul!!!
“apakah perjalanan ini hanya untuk mencari kedamaian?”
“ataukah aku sebanarnya sedang mencari makna dari setiap pertemuan yang datang?”
Perjalanan ini kini terasa lebih seperti pencarian akan jawaban yang mungkin tidak akan pernah kutemukan dalam kata-kata.
Namun, aku merasa bahwa itu tidak masalah. Karena mungkin, dalam pencarian itu sendiri, kita menemukan lebih banyak hal daripada yang kita kira.
Kembali lagi aku mulai menyadari bahwa setiap langkah di perjalanan menuju danau Tanralili adalah bagian dari perjalanan yang lebih besar, sebuah perjalanan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan tujuan. Tanralili mengajarkan aku untuk menerima ketidakpastian, untuk membiarkan diri terhanyut dalam kehidupan yang tak selalu bisa kita kendalikan. Seperti angin yang berdesir lembut melalui rerimbunan daun dan pepohonan, hidup ini datang dan pergi tanpa permintaan, hanya meninggalkan jejak-jejak yang akan selalu mengingatkan kita akana perjalanan panjang yang telah kita lewati.
Keesokan paginya, saat matahari terbit di balik pegunungan yang mempesona, aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam diriku. Sesuatu yang lebih ringan, lebih jelas. Aku tak lagi merasa terjebak oleh ritinitas, oleh tuntutan yang tak pernah habis. Aku merasa bahwa aku telah menemukan kembali bagian dari diriku yang selama ini terabaikan-bagian yang penuh dengan rasa syukur, penuh dengan penerimaan akan hidup apa adanya.
Dari sini aku paham bahwa perjalananku ke tanralili mengajarkan ku banyak hal. Di tanralili bagaimana aku bisa mengerti bahwa perjalanan bukan tentang sampai di suatu tempat melainkan bagaimana kita belajar melihat dengan hati yang lebih jernih.
Di setiap langkah yang terayun, di setiap pertemuan yang tak terduga, hidup ini menunjukkan dirinya dalam bentuk yang tak selalu bisa kita pahami, tapi perlu kita ketahui bahwa dibalik semua itu tersimpan sebuah makna. Ibaratkan seperti angin yang tak pernah bisa di tangkap, namun selalu bisa dirasakan, begitu pula kehidupan-kadang kita tidak perlu tahu kemana arusnya membawa, cukup kita mengikuti dengan hati yang terbuka dan penuh harap.
“sesungguhnya hidup adalah
serangkaian perjalanan tanpa akhir
yang penuh dengan keajaiban yang tak tampak”
Komentar
Posting Komentar