Pemikiran ibnu arabi
العلم هوى المنزار والحق هوى المتزيل فيهي
Kutipan "Al-‘alam huwa al-manzar wa al-haqq huwa al-mutazzil fihi" dari Ibn Arabi mengandung makna yang sangat dalam dan kompleks, yang memerlukan pemahaman dalam konteks pemikiran filsafat dan tasawufnya. Secara harfiah, kutipan ini bisa diterjemahkan sebagai:
"Alam adalah tempat pandang, dan Tuhan adalah yang melihat dalam pandangan itu."
Kutipan ini menggambarkan pandangan esoterik Ibn Arabi tentang hubungan antara Tuhan (al-Haqq) dan alam semesta (al-‘alam). Untuk memahami makna ini lebih dalam, kita perlu membahas beberapa aspek utama yang terkandung dalam ajaran Ibn Arabi.
Pertama Alam sebagai Cerminan atau Tempat Pandang
Menurut Ibn Arabi, alam semesta adalah "manzar" atau tempat pandang. Dalam konteks ini, "manzar" dapat diartikan sebagai sesuatu yang dilihat atau disaksikan. Alam bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, terpisah dari Tuhan, tetapi lebih sebagai cerminan atau refleksi dari Tuhan itu sendiri. Semua fenomena alam, dari yang terkecil hingga yang terbesar, adalah cara bagi Tuhan untuk memperlihatkan Diri-Nya kepada makhluk-Nya. Alam ini, dengan segala peristiwa dan keberadaannya, adalah manifestasi atau tampak-Nya (tajalli) dari sifat-sifat Tuhan.
Dengan kata lain, alam semesta adalah "penampilan Tuhan" yang tidak pernah terpisah dari-Nya, namun tetap hanya sebatas tampakan atau manifestasi. Setiap bagian dari alam, baik itu benda mati, tumbuhan, hewan, maupun manusia, adalah bagian dari proses manifestasi Tuhan yang tak terhingga dalam bentuk yang terbatas.
Adapun yang ke dua Tuhan Melampaui Alam
Namun, meskipun alam adalah tempat Tuhan memperlihatkan Diri-Nya, Tuhan sendiri tetap melampaui alam. Tuhan tidak identik dengan alam, meskipun alam merupakan manifestasi-Nya. Dalam ajaran Ibn Arabi, Tuhan memiliki sifat yang "transenden" (melebihi atau melampaui alam) dan juga "immanen" (berada dalam alam). Ini adalah inti dari konsep Wahdat al-Wujud (Kesatuan Wujud), di mana segala sesuatu yang ada, pada akhirnya adalah satu dengan Tuhan, namun Tuhan tetap tidak dapat dipahami secara penuh oleh akal manusia.
Secara lebih jelas, dalam pandangan Ibn Arabi, Tuhan hadir dalam segala sesuatu, namun tidak terbatas oleh apa pun yang ada. Alam adalah tempat di mana Tuhan memperlihatkan sifat-sifat-Nya, tetapi Tuhan tidak dapat didefinisikan hanya dengan alam tersebut. Tuhan melampaui apapun yang bisa dilihat atau didefinisikan oleh makhluk-Nya, termasuk dalam bentuk manifestasi di alam ini.
Selanjutnya "Al-Haqq" sebagai yang Melihat
Selanjutnya, Ibn Arabi menyatakan bahwa "Al-Haqq" (Tuhan) adalah "yang melihat" dalam pandangan itu. Hal ini mengacu pada pemahaman bahwa Tuhan bukan hanya yang terlihat dalam alam, tetapi juga yang melihat. Alam ini ada karena Tuhan "melihat" atau memperhatikan-Nya, dan semua yang ada di alam adalah hasil dari perhatian Tuhan. Dalam ajaran Ibn Arabi, Tuhan tidak hanya tampak dalam alam semesta, tetapi juga terus-menerus memelihara alam tersebut dengan "pandangan-Nya".
Dengan demikian, meskipun alam adalah tempat di mana Tuhan "terlihat," Tuhan tetap menjadi "yang melihat" di balik segala yang ada. Ini menunjukkan bahwa Tuhan memiliki kesadaran dan kehendak atas seluruh ciptaan-Nya, dan bukanlah ciptaan yang berdiri sendiri tanpa keterkaitan dengan-Nya. Dalam pandangan ini, alam tidak pernah terpisah dari Tuhan, dan Tuhan selalu hadir dalam setiap fenomena alam, meskipun kita tidak bisa menangkap sepenuhnya hakikat-Nya.
Nah perlu kita ketahui bahwa Konsep yang mendalam dari kutipan ini adalah pemahaman tentang kesatuan antara alam dan Tuhan dalam bentuk yang sangat esoterik. Meskipun alam adalah cerminan atau tampak dari Tuhan, tidak ada perpisahan sejati antara keduanya. Namun, ini bukan berarti bahwa alam itu identik dengan Tuhan. Tuhan adalah pencipta dan pengatur segala sesuatu, sementara alam adalah wujud dari ciptaan-Nya.
Bagi Ibn Arabi, dunia adalah "tempat yang Tuhan ciptakan untuk menyaksikan diri-Nya". Namun, kesaksian ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa Tuhan tetap melampaui pemahaman kita tentang dunia ini. Alam sebagai "manzar" hanya memberikan gambaran yang terbatas dari Tuhan, sementara Tuhan adalah yang lebih tinggi, lebih luas, dan lebih mutlak dari segala yang ada.
Bagaimana ketika ada yang bertanya brrti tuhan juga ada yang menciptakan jawabannya?
regresi merujuk pada rangkaian sebab-akibat yang tak terhingga atau penyebab yang berantai, di mana setiap sebab membutuhkan penyebab lain sebelumnya. Dalam logika mantiq, regresi tanpa akhir dianggap sebagai masalah filosofis yang perlu dijelaskan, karena jika rantai sebab-akibat ini terus berlanjut tanpa akhir, maka tidak akan ada awal atau penyebab pertama, yang dapat menimbulkan pertanyaan mengenai keteraturan alam dan eksistensi itu sendiri.
1. Regresi Tak Terhingga (Infinite Regress)
Regresi tak terhingga adalah fenomena di mana setiap peristiwa atau keberadaan tergantung pada penyebab sebelumnya, yang pada gilirannya memerlukan penyebab lainnya, dan seterusnya, tanpa adanya titik awal. Dalam konteks ini, regresi menjadi problem logis, karena tidak mungkin sebuah peristiwa atau eksistensi ada jika tidak ada penyebab pertama yang memberikan titik awal untuk seluruh proses kausal.
Di dalam mantiq, regresi tak terhingga ini bertentangan dengan prinsip sebab pertama (al-‘illat al-ula), yang mengharuskan adanya penyebab yang pertama (tidak tergantung pada sebab lain), yang merupakan katalis dari segala sesuatu yang ada.
Dalam mantiq dan filsafat Islam, Tuhan tidak dapat dianggap sebagai objek yang diciptakan atau sebagai entitas yang muncul dari suatu penyebab, karena Tuhan adalah penyebab pertama (al-‘illat al-ula). Menurut ajaran filsafat Islam, segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki penyebab, kecuali Tuhan. Tuhan tidak diciptakan oleh apapun karena Dia adalah "wujud wajib" (wujūd al-wājib) — yaitu wujud yang ada dengan sendirinya dan tidak membutuhkan penyebab lain untuk eksistensinya.
Dalam logika mantiq, regresi tak terhingga (infinite regress) adalah masalah yang tidak terpecahkan jika setiap wujud atau entitas dalam alam semesta membutuhkan penyebab lainnya tanpa ada penyebab pertama yang memulai segala sesuatu. Ini akan menciptakan kekosongan logis, karena tidak akan ada titik awal untuk rantai sebab-akibat tersebut.
Komentar
Posting Komentar