Ketika mulut tidak bisa menyampaikan masih ada tulisan yang bisa menyampaikan
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
SECANGKIR KOPI
Ketika sesapan kopi mendarat di bibir seseorang. Maka, disitulah energi negatif seseorang tersebut
akan keluar. Kopi selain bisa menyatukan seseorang dengan orang lain juga bisa membawa ketenangan.
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Komentar
Postingan populer dari blog ini
Ikhlas di antara Luka Tidak semua tulisan lahir dari tenang dan bahagia. Ada yang lahir dari pergulatan batin, dari ketidakterimaan yang menumpuk hari demi hari. Inilah catatan tentang luka yang terlalu dalam untuk diam, tetapi terlalu berat untuk diucapkan. Semoga siapa pun yang membaca, menemukan dirinya di sini. Akhir-akhir ini, banyak dari kita mungkin merasa bahwa hidup hanyalah tentang belajar ikhlas. Sebuah kata sederhana yang sering kita dengar, tetapi dalam praktiknya justru mengiris paling dalam. Di antara berjuta-juta kemarahan, rasa ketidakterimaan, dan ketidakmampuan menerima kenyataan, kita seperti dipaksa menelan sesuatu yang terlalu pahit untuk bisa diterima sepenuhnya. Kita marah pada keadaan yang tak sesuai harapan, kecewa pada orang lain yang tak seperti yang kita bayangkan, bahkan sering kali marah pada diri sendiri yang terasa terlalu lemah untuk bertahan. Inilah yang membuat banyak orang hidup dalam lingkaran yang sama menolak, menyangkal, lalu terpuru...
Menunggu langkahmu Sebenarnya aku ingin bertanya padamu, bukan dengan suara, melainkan lewat bait-bait yang kutulis. Sebab ada hal-hal yang terlalu rapuh bila diucapkan, namun begitu jujur saat dituangkan dalam kata. Dan lewat tulisan ini, izinkan aku menyampaikan resah yang tak sanggup kusampaikan tatap mata. Jika memang kau orangnya, mengapa langkahmu selalu ragu mendekat? Aku berdiri di sini, bukan untuk menuntut, hanya berharap hatimu berani mengetuk pintuku. Aku ingin percaya kau adalah rumah, tempat segala resahku berhenti. Namun kadang aku takut jangan-jangan aku hanya persinggahan, sementara hatiku telah menjadikanmu tujuan. Cinta, bagiku bukan hanya tatapan yang indah, tapi keberanian untuk mendekap meski langkah goyah. Jika benar aku yang kau cari, runtuhkanlah jarak ini, datanglah dengan sederhana, tanpa janji muluk, tanpa kata yang berkilau. Tapi bila hatimu tak pernah berniat singgah, maka biarlah aku merawat luka ini dengan tenang. Sebab yang kucari bukan peng...
Perjalanan Si Rudi Rudi sedang duduk di bangku warung kopi kecil, menghadap layar ponselnya. Ia baru saja membuka grup chat, tempat teman-temannya sering berdiskusi tentang kuliah dan kehidupan mereka. Beberapa pesan terkirim, dan hati Rudi terasa sedikit terguncang membaca kata-kata itu. “Di sana cuma modal berangkat kuliah. Kalau mood nggak ada, bolos terus di kelas tidur aja. Sementara kita berangkat kuliah buat cari biaya,” bunyi salah satu pesan. Rudi menunduk. Kata-kata itu seperti disambar petir di siang bolong. Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu betapa kerasnya perjuangannya. Di balik penampilannya yang sering tidur di kelas, Rudi berjuang mati-matian setiap hari. Sementara mereka bisa dengan mudah bangun pagi, bersiap, dan pergi ke kampus tanpa memikirkan banyak hal. Rudi harus bekerja keras, di warung kopi malam hari, hanya untuk menambah sedikit uang agar bisa melanjutkan kuliah. Rudi menarik napas dalam-dalam. Sering kali ia merasa, semua ini tak pernah cukup. Tak pernah ...
Komentar
Posting Komentar